BHARATA ONLINE - Perayaan Lebaran atau Idul Fitri di Tiongkok memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Meskipun umat Islam merupakan minoritas, mereka tetap merayakan hari kemenangan ini dengan penuh makna, memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal yang khas.

Dilansir dari Bolong.id, berikut beberapa tardisi dan budaya saat perayaan Lebaran di Tiongkok:

Keberagaman Komunitas Muslim

Tradisi Lebaran di Tiongkok sangat dipengaruhi oleh komunitas Muslim seperti Hui dan Uyghur. Mereka tinggal di berbagai wilayah seperti Xinjiang dan Ningxia, sehingga menciptakan variasi budaya dalam perayaan Lebaran.

Salat Id dan Kegiatan Keagamaan

Seperti di negara lain, Lebaran diawali dengan salat Id berjamaah di masjid. Masjid-masjid besar seperti Masjid Niujie dipenuhi jamaah yang datang sejak pagi hari.

Setelah salat, umat Muslim biasanya saling mengucapkan selamat dan berdoa bersama, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan.

Tradisi Silaturahmi

Silaturahmi menjadi bagian penting dalam perayaan Lebaran. Keluarga dan kerabat saling mengunjungi untuk mempererat hubungan dan saling memaafkan.

Berbeda dengan Indonesia yang memiliki tradisi mudik besar-besaran, di Tiongkok perayaan lebih bersifat lokal dan sederhana, tetapi tetap sarat makna kekeluargaan.

Berbagi dan Sedekah

Semangat berbagi juga sangat terasa saat Lebaran. Umat Muslim di Tiongkok saling memberikan makanan kepada tetangga dan membantu mereka yang membutuhkan.

Tradisi ini mencerminkan nilai utama Idul Fitri: kepedulian, kebersamaan, dan rasa syukur.

Busana Tradisional

Saat Lebaran, banyak umat Muslim mengenakan pakaian terbaik mereka. Di beberapa daerah, pakaian tradisional khas etnis seperti Uyghur menjadi bagian dari identitas budaya yang ditampilkan saat perayaan.

Perayaan yang Beragam

Perayaan Lebaran di Tiongkok bisa berbeda-beda tergantung wilayah. Di daerah dengan populasi Muslim besar seperti Ningxia, suasana Lebaran terasa lebih hidup dan meriah.

Namun di kota besar seperti Beijing, perayaan cenderung lebih sederhana karena umat Muslim hidup berdampingan dengan masyarakat yang beragam. [Bolong.id]