BEIJING, Radio Bharata Online - Tiongkok mengusulkan komunitas maritim dengan masa depan bersama, untuk mendorong perdamaian dan stabilitas maritim di Laut Tiongkok Selatan.  Usulan Beijing itu tertuang dalam buku putih berjudul “A Global Community of Shared Future: China's Proposals and Actions" yang dirilis Selasa 26 September.

Laut Tiongkok Selatan adalah jalur perairan penting yang menjadi rute perdagangan internasional, senilai tiga triliun dolar AS (Rp 45.000 triliun) setiap tahun. Jalur itu diyakini kaya potensi energi mineral, minyak dan gas.

Dalam dokumen itu Tiongkok mengaku menghadapi permasalahan maritim yang semakin kompleks, sehingga mengusulkan pembentukan komunitas maritim yang didasarkan pada prinsip saling menghormati, kesetaraan, kerja sama, dan saling menguntungkan.

Seperti dirilis CGTN, isi dokumen itu menyebutkan, Tiongkok meyakini konsep ini dapat mendorong perdamaian dan stabilitas pada bidang maritim, serta menciptakan masa depan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan bagi semua negara.

Tiongkok mengklaim selalu berkomitmen dalam menyelesaikan kedaulatan wilayah serta hak maritim, dan perselisihan kepentingan di Laut Tiongkok Selatan melalui dialog dan konsultasi.

Beijing menerapkan Deklarasi Perilaku Para Pihak di Laut Tiongkok Selatan dengan negara-negara ASEAN secara penuh dan efektif, dan terus melanjutkan perundingan tentang pedoman tata perilaku di perairan tersebut.

Deklarasi Perilaku Para Pihak (DoC) yang disepakati pada tahun 2002 adalah perjanjian tidak mengikat, yang menguraikan prinsip-prinsip penyelesaian sengketa Laut Tiongkok Selatan secara damai.

DoC meminta para pihak menahan diri dari aktivitas yang mengancam atau mengerahkan pasukan, menyelesaikan perselisihan secara damai melalui dialog dan konsultasi, dan menghormati kebebasan berlayar dan terbang.

Tiongkok juga telah mengusulkan membangun kemitraan ekonomi biru bersama, dan memperkuat konektivitas maritim. (merahputih)