Paris, Radio Bharata Online - Mantan Wakil Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Zhu Min, mengatakan bahwa Tiongkok dan Prancis harus meningkatkan kerja sama internasional dan mempromosikan multilateralisme dalam menghadapi tantangan global yang semakin meningkat.

Dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Zhu, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua China Center for International Economic Exchanges, mengatakan bahwa ada banyak area potensial untuk kedua negara dapat memperluas kolaborasi dan memperkuat hubungan ekonomi.

"Perdagangan Tiongkok-Prancis meningkat 800 kali lipat sejak kami menjalin hubungan diplomatik. Namun, angka ini masih hanya 80 miliar dolar AS (sekitar 1.281 triliun rupiah), 80 miliar dolar AS berarti hanya sepertiga dari perdagangan AS-Jerman," ujar Zhu.

Dia mengatakan bahwa Prancis unggul dalam teknologi canggih dan penelitian pertanian, sementara Tiongkok memimpin dalam bidang manufaktur ramah lingkungan, menciptakan peluang besar untuk kerja sama dan perdagangan.

"Prancis memajukan banyak teknologi canggih dalam hal penerbangan, ruang angkasa, instrumen, (dan) Kecerdasan Buatan. Dan juga, Prancis adalah negara agrikultur yang besar (dan) benar-benar memajukan penelitian di bidang pertanian. Jadi, (kita berbicara tentang) benih dan tanah serta iklim dan isu-isu dalam ekosistem lingkungan dan banyak hal yang dapat mereka lakukan. Dan juga kedua belah pihak dapat bekerja untuk kerja sama pihak ketiga, terutama, misalnya, di Afrika. Sementara itu, dalam satu dekade terakhir, Tiongkok tumbuh dengan pesat di bidang manufaktur. Tiongkok benar-benar memimpin seluruh dunia dalam hal manufaktur ramah lingkungan dalam hal EV, baterai, tenaga surya, kincir angin, kualitas tinggi, harga terjangkau, yang mana hal ini sangat dibutuhkan oleh Prancis dan Eropa untuk mencapai target iklim mereka," papar Zhu.

Zhu menyoroti pentingnya kedua negara untuk terus memperjuangkan multilateralisme karena hal ini akan membantu meningkatkan perdagangan global dan membawa kemakmuran.

"Tiongkok dan Perancis merupakan suara yang kuat untuk multilateralisme di masa lalu. Saya yakin mereka berdua memiliki suara yang kuat saat ini dan akan tetap demikian di masa depan, dan ini menjadi semakin jelas bahwa multilateralisme adalah satu-satunya kerangka kerja yang dapat kita jalani (karena membantu kita bekerja sama)," ujar Zhu.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, meninggalkan Beijing pada hari Minggu (5/5) pagi untuk kunjungan kenegaraan ke Prancis, Serbia, dan Hongaria atas undangan Presiden Emmanuel Macron dari Republik Prancis, Presiden Aleksandar Vučić dari Republik Serbia, serta Presiden Tamás Sulyok dan Perdana Menteri Viktor Orbán dari Hongaria.