JAKARTA - Di tengah bangunan megah yang terus berkembang di Jakarta, sebuah bangunan di sudut Pasar Rebo, Jakarta Timur, menunjukkan eksistensinya sebagai masjid yang cukup unik. Masjid Tjia Kaang Hoo merupakan rumah ibadah dengan nuansa arsitektur khas Tionghoa.
Sekilas, masjid yang terletak di Jalan Haji Soleh, Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini terlihat seperti kelenteng dengan warna merah dan emas yang mendominasi serta lampion yang menggelantung di sepanjang jalan menuju masjid tersebut. Namun azan yang berkumandang menegaskan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid yang berdiri kokoh.
Jika biasanya masjid identik dengan arsitektur gaya Timur Tengah, Masjid Tjia Kaang Hoo justru menonjolkan diri dengan gaya arsitektur yang mirip kelenteng. Bahkan tata letak ruangan, gerbang, dan hiasan yang digunakan juga hampir menyerupai sebuah kelenteng.
Masjid ini juga sebagai representasi pendiri masjid Tjia Kaang Hoo yang dikenal dengan Haji Abdul Soleh Ia menjadi mualaf dan menyebarkan agama Islam dengan membentuk majelis taklim di rumahnya yang kini menjadi Masjid Tjia Kaang Hoo.
Namun jika diperhatikan lebih detail, arsitektur masjid ini ternyata merupakan perpaduan antara arsitektur Islam, Betawi, dan Tionghoa. Di bagian dalam terdapat kaligrafi Asmaul Husna atau 99 sifat Allah yang memenuhi tembok area imam salat. Tidak hanya itu, arsitektur yang paling menonjol adalah kubah masjid yang berbentuk seperti pagoda dengan jumlah lima kubah. Terdiri atas empat kubah di setiap sudut dan satu kubah paling besar di tengah. Lima kubah berbentuk pagoda itu memiliki makna filosofis lima rukun Islam yang harus dijalankan oleh umat Muslim.
Awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah rumah tinggal milik Tjia Kaang Hoo yang sering digunakan sebagai tempat perkumpulan kajian atau majelis taklim. Setelah Tjia Kaang Hoo meninggal, anaknya bernama Haji Budianto menggagas pendirian masjid di atas tanah bekas rumah tersebut. [Okezone]