Beijing, Radio Bharata Online - Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau The Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang telah berlaku bagi negara-negara penandatangan selama dua tahun, terus memainkan peran positif dalam memberikan dividen kebijakan di tengah resesi global, berkontribusi dalam menjaga keamanan dan stabilitas industri dan rantai pasokan sekaligus meningkatkan ketahanan dan vitalitas pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
Sepanjang liburan tahun baru selama tiga hari yang berakhir pada hari Senin (1/1), Friendship Pass di Kota Pingxiang di Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, Tiongkok selatan, yang bertetangga dengan Vietnam, yang juga merupakan salah satu pelabuhan darat tersibuk di negara itu untuk perdagangan lintas batas buah-buahan, sibuk memfasilitasi transportasi impor buah-buahan guna memastikan pasokan yang melimpah ke konsumen domestik selama periode perayaan.
"Sejauh ini, 29 jenis produk pertanian telah mendapatkan akses pasar di sini, yang semakin memperkaya pasokan pasar domestik," ujar Liu Binbin, anggota staf departemen logistik bea cukai di Friendship Pass.
Berkat prosedur bea cukai yang nyaman yang dibawa oleh perjanjian tersebut, impor durian segar Tiongkok dari negara-negara anggota RCEP lainnya, termasuk Thailand dan Vietnam, melonjak hingga mencapai nilai total 46,61 miliar yuan (sekitar 102 triliun rupiah) dalam 11 bulan pertama tahun 2023, menandai peningkatan 1,7 kali lipat dibandingkan dengan seluruh tahun 2021 sebelum perjanjian tersebut secara resmi berlaku pada Januari 2022.
Selain perdagangan produk pertanian, kerja sama ekonomi Tiongkok dengan negara-negara anggota RCEP lainnya telah mengungkapkan sorotan baru dalam perdagangan barang perantara dan "tiga produk baru", yakni kendaraan listrik, baterai lithium, dan sel surya.
Barang setengah jadi adalah produk yang digunakan dalam produksi produk jadi, yang memainkan peran penting dalam perdagangan internasional.
Selama periode Januari hingga November 2023, ekspor barang setengah jadi Tiongkok ke negara-negara anggota RCEP lainnya mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 17,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021, yang mengukuhkan posisi Tiongkok sebagai pedagang barang setengah jadi terdepan di kawasan ini.
Pada periode yang sama, ekspor "tiga produk baru" Tiongkok ke kawasan ini mengalami lonjakan luar biasa sebesar 113,6 persen, melampaui angka ekspor tahun 2021.
Industri seperti otomotif, petrokimia, tekstil, dan elektronik telah menyaksikan peningkatan perdagangan di antara anggota RCEP lainnya, yang mengarah pada peningkatan keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan regional.
Selain itu, perusahaan-perusahaan menuai keuntungan nyata dan menikmati manfaat yang signifikan sebagai hasil dari memanfaatkan peluang yang dihadirkan oleh perjanjian RCEP.
"Selama dua tahun terakhir sejak berlakunya RCEP, kami telah memanfaatkan kebijakan preferensial aturan asal (ROO) yang dijabarkan oleh RCEP dalam mengoperasikan bisnis ekspor, secara kumulatif menghemat lebih dari lima juta yuan (sekitar 11 miliar rupiah) tarif impor yang harus dibayarkan kepada otoritas bea cukai di negara mereka. Dengan demikian, kami membuat produk kami lebih kompetitif di pasar internasional," kata Han Jie, Kepala bisnis bea cukai di Dongyue Group, produsen membran elektrolit polimer (PEM).
Dari Januari hingga November 2023, perusahaan-perusahaan Tiongkok menyaksikan peningkatan luar biasa sebesar 45,2 persen dalam nilai impor yang diuntungkan dari perlakuan istimewa di bawah perjanjian RCEP, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sementara itu, terdapat pertumbuhan 11,5 persen dari tahun ke tahun dalam jumlah pengajuan sertifikat RCEP ROO oleh eksportir.
Di Qingdao, sebuah kota pesisir di Provinsi Shandong, Tiongkok timur, tujuh stasiun layanan komunitas RCEP baru telah didirikan. Stasiun-stasiun tersebut tidak hanya menawarkan layanan kepabeanan yang nyaman secara langsung kepada para pelaku usaha, tetapi juga memfasilitasi pengiriman produk-produk berkualitas tinggi dari negara-negara anggota RCEP lainnya ke rumah tangga.
"Tiongkok telah melakukan upaya bersama dari berbagai aspek dan dimensi untuk mengimplementasikan perjanjian RCEP dengan kualitas tinggi, dengan perluasan produksi regional dan kerja sama rantai pasokan secara aktif. Pemberlakuan RCEP di negara-negara penandatangan telah berkontribusi dalam meningkatkan semangat dan vitalitas eksportir Tiongkok, dengan terus munculnya peluang baru untuk kerja sama di berbagai bidang seperti e-commerce lintas batas, ekonomi digital, dan ekonomi hijau. Upaya-upaya ini telah membantu mengimbangi perlambatan ekonomi global dan berkontribusi positif dalam menstabilkan fundamental investasi dan perdagangan luar negeri," ujar Yuan Bo, Kepala lembaga urusan Asia di Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation di bawah Kementerian Perdagangan.
Hari Senin (1/1) menandai peringatan dua tahun berlakunya RCEP.
RCEP terdiri dari 10 negara anggota ASEAN, yaitu Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, bersama dengan lima mitra dagang bebas mereka yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
Ke depannya, ke-15 negara anggota RCEP tetap berdedikasi untuk mengurangi tarif pada produk-produk industri, termasuk industri ringan, otomotif, elektronik, dan petrokimia, sesuai dengan kesepakatan. Selain itu, mereka akan terus memajukan liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi di bawah RCEP. Upaya-upaya ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan dan vitalitas pertumbuhan ekonomi regional.