Bharata Online - Perkembangan kebijakan kesehatan dan bioteknologi Tiongkok yang tergambar dalam pembaruan daftar obat asuransi nasional, munculnya daftar obat inovatif asuransi komersial, hingga kemajuan riset umur panjang dan lonjakan inovasi farmasi, menunjukkan sebuah transformasi struktural yang jauh melampaui isu teknis kesehatan semata. Fenomena ini mencerminkan pergeseran kekuatan global di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan tata kelola negara, sekaligus memperlihatkan bagaimana Tiongkok secara sistematis membangun keunggulan strategis yang kini mulai menantang, bahkan berpotensi melampaui, dominasi Amerika Serikat dan Barat.
Dari perspektif ekonomi politik internasional, kebijakan Tiongkok dalam memperluas daftar obat asuransi kesehatan nasional bukan sekadar langkah kesejahteraan sosial, melainkan instrumen pembangunan nasional jangka panjang. Penambahan 114 obat baru—50 di antaranya obat inovatif—serta fokus pada penyakit berat, langka, kronis, kesehatan mental, dan anak-anak menunjukkan pendekatan negara pembangunan (developmental state) yang aktif dan terkoordinasi. Negara tidak menyerahkan sepenuhnya sektor kesehatan kepada mekanisme pasar seperti di AS, melainkan memadukan peran negara, industri, dan sistem pembiayaan publik untuk menciptakan skala permintaan yang besar dan stabil. Skala inilah yang menjadi fondasi utama mengapa industri farmasi dan bioteknologi Tiongkok mampu tumbuh cepat, murah, dan efisien.
Dalam paradigma realisme, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat kapasitas nasional (national power). Kesehatan publik, umur harapan hidup, dan kemandirian obat adalah elemen kekuatan negara modern, setara dengan energi, pangan, dan teknologi militer. Ketika Tiongkok memastikan lebih dari 3.200 obat tercakup dalam sistem asuransi nasional, negara ini secara efektif mengurangi ketergantungan pada perusahaan farmasi Barat sekaligus melindungi stabilitas sosialnya. Sebaliknya, sistem kesehatan AS yang mahal dan terfragmentasi justru menjadi beban struktural yang menggerogoti daya saing ekonomi dan legitimasi politik di dalam negeri.
Ambisi Tiongkok dalam riset umur panjang, termasuk pengembangan senyawa PCC1 dari biji anggur oleh Lonvi Biosciences, memperlihatkan keberanian strategis untuk masuk ke frontier ilmu pengetahuan yang selama ini didominasi Barat. Meski riset ini masih menghadapi tantangan ilmiah dan kontroversi data, pendekatan Tiongkok berbeda secara mendasar: riset berisiko tinggi tidak dipandang sebagai spekulasi individu semata, tetapi sebagai investasi nasional. Sejarah obsesinya terhadap umur panjang—dari era Qin Shi Huang hingga hari ini—justru menunjukkan kontinuitas budaya dan politik dalam mengejar penguasaan ilmu kehidupan. Berbeda dengan Barat yang sering membiarkan riset radikal bergantung pada modal ventura jangka pendek, Tiongkok memadukan dana negara, minat elite, dan pasar domestik raksasa untuk menopang eksperimen jangka panjang.
Dari perspektif liberal institusionalisme, reformasi regulasi obat sejak 2015 menjadi kunci penting. Dengan mempercepat peninjauan, meningkatkan transparansi, dan menyelaraskan standar data dengan praktik internasional, Tiongkok berhasil mengintegrasikan dirinya ke dalam rezim global farmasi tanpa kehilangan kontrol nasional. Fakta bahwa FDA AS dan EMA Eropa kini semakin sering memberikan priority review atau breakthrough designation kepada obat-obatan asal Tiongkok menandakan pengakuan de facto terhadap kualitas ilmiah mereka. Ini adalah bentuk soft power teknologis: legitimasi internasional yang diperoleh bukan melalui retorika politik, melainkan melalui data klinis dan hasil nyata bagi pasien.
Data Bloomberg dan Norstella yang menunjukkan lebih dari 1.250 obat inovatif China dalam pipeline global—hampir menyamai AS dan melampaui Uni Eropa—menjadi bukti konkret pergeseran pusat gravitasi inovasi medis. Jika pada 2015 kontribusi China hanya kurang dari 6 persen, lonjakan ini menegaskan efektivitas strategi “latecomer advantage” yang dijelaskan dalam teori pembangunan industri. Tiongkok belajar dari kegagalan dan keberhasilan Barat, menghindari biaya awal yang mahal, lalu melompat dengan skala, kecepatan, dan integrasi sistem yang tidak dimiliki negara lain.
Keunggulan biaya dan kecepatan uji klinis di Tiongkok juga mencerminkan kelebihan struktural yang sulit ditiru Barat. Populasi besar, jaringan rumah sakit terpusat, dan sistem data kesehatan memungkinkan perekrutan pasien jauh lebih cepat. Dalam kerangka teori kompetisi sistem, ini menunjukkan bagaimana perbedaan institusi domestik menghasilkan hasil internasional yang asimetris. Sementara AS terjebak dalam regulasi mahal, litigasi, dan fragmentasi pasar, Tiongkok justru memanfaatkan koordinasi negara untuk mempercepat siklus inovasi tanpa mengorbankan standar ilmiah.
Kritik bahwa perusahaan Tiongkok masih cenderung melakukan “inovasi inkremental” dibanding terobosan radikal memang tidak sepenuhnya keliru, namun sering mengabaikan dinamika akumulasi teknologi. Sejarah inovasi Barat sendiri menunjukkan bahwa dominasi global tidak dibangun semata dari lompatan revolusioner, melainkan dari ribuan perbaikan bertahap yang akhirnya menciptakan keunggulan sistemik. Contoh terapi sel Legend Biotech atau obat kanker Akeso yang menyaingi bahkan melampaui Keytruda memperlihatkan bahwa Tiongkok kini mulai memasuki fase terobosan, bukan lagi sekadar mengejar.
Reaksi Amerika Serikat yang mulai memandang bioteknologi Tiongkok sebagai ancaman keamanan nasional justru memperkuat argumen bahwa persaingan ini telah memasuki tahap strategis. Upaya pembatasan ekspor, hambatan investasi, dan retorika ancaman menunjukkan pola klasik hegemoni yang terancam, sebagaimana dijelaskan dalam teori transisi kekuatan. Namun sejarah menunjukkan bahwa proteksionisme teknologi sering kali mempercepat kemandirian pihak yang ditekan, sebagaimana terjadi pada semikonduktor dan kendaraan listrik Tiongkok.
Pada akhirnya, kebangkitan bioteknologi Tiongkok memperlihatkan model alternatif pembangunan ilmu pengetahuan: negara kuat, pasar besar, riset terkoordinasi, dan orientasi jangka panjang. Model ini bukan tanpa risiko, tetapi sejauh ini terbukti efektif menghasilkan skala, kecepatan, dan kualitas yang semakin diakui dunia. Ketika pejabat kesehatan Tiongkok menyatakan negaranya kini berada di peringkat kedua dunia dalam pengembangan obat baru, itu bukan sekadar klaim politik, melainkan refleksi data dan tren global.
Dalam konteks ini, Tiongkok tidak hanya mengejar ketertinggalan dari AS dan Barat, tetapi sedang mendefinisikan ulang aturan main industri farmasi global. Jika tren ini berlanjut, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah Tiongkok mampu menyaingi Barat, melainkan seberapa cepat dunia akan terbiasa dengan kenyataan bahwa pusat inovasi medis abad ke-21 semakin bergeser ke Timur.