Changsha, Bharata Online - Mantan Perdana Menteri Prancis, Jean-Pierre Raffarin, telah menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara Tiongkok dan Prancis dalam mengatasi tantangan global.

Dalam sebuah wawancara di sela-sela Forum Kebudayaan Tiongkok-Prancis ke-7 yang diselenggarakan di Changsha, Provinsi Hunan pada awal November 2025, Raffarin menguraikan beberapa bidang utama untuk potensi kerja sama antara kedua negara.

"Saya yakin bahwa Tiongkok dan Prancis harus berkolaborasi untuk mengatasi sejumlah tantangan yang dihadapi dunia modern, termasuk yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), transisi ekologi, dan multilateralisme. Saya pikir penting bagi kita untuk menyelaraskan posisi masa depan kita dan terlibat dalam dialog berwawasan ke depan. Dialog ini seharusnya tidak hanya berfokus pada kemajuan penelitian terkini tetapi juga mempertimbangkan seperti apa dunia kita pada tahun 2040 dan 2050," ujarnya.

Mencatat bahwa dunia sedang mengalami transformasi yang pesat, Raffarin menekankan bahwa kerja sama antara Tiongkok dan Prancis harus berfokus pada penyediaan solusi regulasi untuk memastikan bahwa teknologi melayani kemanusiaan.

"Dunia kita sedang mengalami transformasi yang pesat. Tiongkok telah beradaptasi dengan laju ini, sementara Eropa masih mengejar ketertinggalan -- transisi ekologi semakin cepat, informasi menyebar dengan cepat, dan AI berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks ini, penting bagi Tiongkok dan Prancis untuk membayangkan masa depan yang tak lama lagi, yang saya perkirakan akan terjadi pada tahun 2040. Seperti apa kerja sama Tiongkok-Prancis di tahun 2040? Kerja sama mereka harus berfokus pada penyediaan solusi bersama terkait regulasi transformasi global, terutama di bidang-bidang utama yang mengalami pergolakan signifikan, seperti AI, kesehatan, dan transportasi. Dalam beberapa isu kritis, kita harus memastikan bahwa dimensi kemanusiaan dari peradaban kita dipertahankan, sehingga teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya," jelasnya.