Shanghai, Bharata Online - Sebuah komunitas di Shanghai, Tiongkok Timur, membantu warga lanjut usia beralih dari sekadar bertahan hidup menjadi hidup lebih baik dengan menyediakan layanan yang lebih baik untuk kegiatan rekreasi, kesehatan, dan perawatan sehari-hari, menawarkan model bagi populasi lansia di negara tersebut.
Sebagai kota metropolitan global dan salah satu pusat ekonomi dan budaya utama Tiongkok, Shanghai memiliki hampir enam juta warga lanjut usia, yang mencakup lebih dari 37 persen dari populasi penduduk tetapnya.
Komunitas Shanggang, yang terletak di Kawasan Baru Pudong Shanghai, telah berupaya untuk memberikan kehidupan yang bermartabat bagi warga lanjut usia.
Yin Yi, seorang warga berusia 72 tahun di Komunitas Shanggang, menyebut komunitas itu sebagai rumahnya.
Ia mengatakan "kehidupan menjadi sangat meriah" setelah kompleks tiga bangunan dirancang untuk warga lanjut usia. Yin juga menambahkan bahwa "Bangunan pertama memiliki kantin yang menyajikan sarapan, makan siang, dan makan malam. Yang kedua adalah pusat kebugaran dan perpustakaan. Saya bisa menghabiskan sepanjang hari di sana, mengobrol dengan teman-teman. Yang ketiga adalah rumah sakit komunitas. Sangat nyaman. Ini adalah berkah. Kami tidak hanya 'bertahan hidup,' kami benar-benar hidup. Bahagia. Sungguh."
Transformasi Shanggang mencerminkan kisah yang lebih luas tentang pembangunan ekonomi. PDB Pudong telah tumbuh dari 6 miliar yuan (sekitar 15,75 triliun rupiah) pada tahun 1990 menjadi 1,87 triliun yuan (sekitar 4.909 triliun rupiah) pada tahun 2025, memberikan fondasi yang kokoh untuk layanan publik, termasuk perawatan lansia.
Bagi warga seperti Gu Huijuan, 77 tahun, akses ke perawatan medis tepat waktu telah mengubah hidupnya.
"Suatu kali tekanan darah saya melonjak hingga 190, (yang) membuat saya sangat takut. Namun, dokter di sini langsung bertindak, menyesuaikan pengobatan saya, dan memeriksa saya setiap hari. Sekarang tekanan darah saya stabil di 120. Saya bernapas lebih lega. Benar-benar tenang," ujar Gu.
Bagi mereka yang tinggal sendirian, masalah kesehatan yang tiba-tiba dapat terasa sangat berat. Jiang Manying, 86 tahun, yang tinggal sendirian selama delapan tahun, mengingat suatu saat ketika ia tidak lagi bisa berdiri.
"Saya tinggal sendirian selama delapan tahun, selalu sakit. Kemudian suatu hari, saya tidak bisa berdiri. Keluarga saya memeriksa rumah ini -- dan wow. Ada koridor di lantai 4 yang menghubungkan kami langsung ke rumah sakit komunitas. Rasanya seperti memiliki keluarga, 24/7," kata Jiang.
"Sebagian besar layanan di sini gratis, terbuka untuk semua lansia setempat. Bagaimana caranya? Kami menerima dana dari dukungan pemerintah, penggalangan dana komunitas, dan yayasan distrik. Ini membutuhkan kerja sama seluruh komunitas, tetapi melihat senyum mereka sangat berharga," jelas Xie Ni, Wakil Direktur Kantor Lingkungan Shanggang di Shanghai.
Model perawatan lansia terintegrasi Shanggang—menggabungkan makan, kebugaran, kegiatan sosial, dan layanan medis di bawah satu atap—mencerminkan upaya nasional yang lebih luas.
Menurut data resmi, Tiongkok memiliki 310 juta orang berusia 60 tahun ke atas, termasuk 37 juta yang tinggal sendirian pada tahun 2024. Karena semakin sedikit kaum muda yang dapat tinggal bersama orang tua mereka yang lanjut usia, perawatan berkualitas telah menjadi bukan hanya kebiasaan sosial tetapi juga kebutuhan.
Kebijakan perawatan lansia Tiongkok didasarkan pada prinsip-prinsip keamanan dasar, aksesibilitas inklusif, tanggung jawab bersama, dan integrasi sistemik, menurut Kementerian Urusan Sipil.
Pada tahun 2024, 367.000 pusat perawatan lansia komunitas seperti milik Shanggang telah didirikan di seluruh Tiongkok, membantu memberikan jaminan kehidupan yang aman dan bahagia bagi para lansia.