Beijing, Bharata Online - Presiden Tajikistan, Emomali Rahmon, bertemu dengan para pejabat bisnis Tiongkok dan sekelompok eksekutif senior dari berbagai industri di Beijing pada Senin (11/5) malam untuk memperkuat kerja sama ekonomi.
Pertemuan tersebut berlangsung selama kunjungan kenegaraannya ke Tiongkok dari tanggal 11 hingga 14 Mei 2026. Dalam sambutan pembukaannya, Presiden Rahmon menyambut baik peningkatan keterlibatan dari perusahaan-perusahaan Tiongkok dan mendorong mereka untuk mengeksplorasi peluang baru di Tajikistan.
"Lebih dari 700 perusahaan Tiongkok telah berinvestasi di berbagai sektor ekonomi Tajikistan. Saya yakin bahwa integrasi mendalam dari sumber daya ekonomi, teknologi, dan keuangan kita akan memberikan momentum yang kuat untuk peluang pembangunan baru, proyek bersama, dan pertumbuhan berkelanjutan," ujar Presiden Tajikistan dalam pertemuan tersebut.
Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Tajikistan dan tetap menjadi sumber utama investasi asing.
Perdagangan bilateral mencapai 790 juta dolar AS (sekitar 13,8 triliun rupiah) pada kuartal pertama tahun ini, yang berarti peningkatan lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Para pejabat bisnis Tiongkok memuji pertumbuhan yang stabil dan momentum yang kuat dalam kerja sama ekonomi.
"Kerja sama perdagangan dan ekonomi bilateral antara Tiongkok dan Tajikistan berkembang pesat, dengan volume perdagangan yang terus meningkat. Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Tajikistan. Produk pertanian khas Tajikistan, seperti ceri hitam, semakin populer di kalangan konsumen Tiongkok. Sementara itu, produk fotovoltaik dan baterai lithium Tiongkok membantu mendukung pembangunan hijau Tajikistan," ujar Wang Wentao, Menteri Perdagangan Tiongkok.
"Selama penyelenggaraan pertemuan ini, kami melihat antusiasme yang kuat dari perusahaan-perusahaan Tiongkok yang ingin berpartisipasi," kata Ren Hongbin, Ketua Dewan Tiongkok untuk Promosi Perdagangan Internasional.
Ren mengatakan hal ini mencerminkan minat yang besar dan harapan positif dari komunitas bisnis terhadap kerja sama dengan Tajikistan.
Para eksekutif dari berbagai industri—termasuk robotika, kecerdasan buatan, energi baru, pendidikan, dan teknologi digital—menghadiri pertemuan tersebut. Banyak dari mereka mengatakan bahwa berbisnis dengan Tajikistan telah membuahkan hasil yang baik.
"Hingga saat ini, kami telah menyelesaikan atau sedang membangun 18 proyek di Tajikistan, dengan total nilai kontrak sebesar 580 juta dolar AS (sekitar 10,2 triliun rupiah)," kata Tang Yuhua, Ketua Powerchina International Group.
"Kami akan segera meluncurkan lini produksi baru yang mengolah batu bara menjadi 300.000 ton urea, dengan perkiraan investasi sebesar 300 juta dolar AS (sekitar 5,3 triliun rupiah)," tutur Li Mao, Ketua China Pingmei Shenma Energy Chemical Group.
Kunjungan Rahmon ini dilakukan setelah ia dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bertemu di KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai tahun lalu di Tianjin, seiring Tiongkok dan Tajikistan terus memperdalam kerja sama di bawah Prakarsa Sabuk dan Jalan dan memperluas hubungan bilateral dalam perdagangan, investasi, dan konektivitas infrastruktur.
Tiongkok dan Tajikistan menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1992, dan para pejabat dari kedua negara menggambarkan hubungan bilateral sebagai yang terbaik dalam sejarah.