Bharata Online - Pembentukan aliansi pengembangan teknologi film realitas virtual (Virtual Reality/VR) di Beijing dan menguatnya peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam Festival Film Internasional Pulau Hainan ke-7 yang telah resmi ditutup pada Selasa (9/12) bukanlah peristiwa terpisah, melainkan bagian dari strategi besar Tiongkok dalam membangun kekuatan struktural baru di industri kreatif global.
Di balik narasi teknologi dan hiburan, terdapat dinamika hubungan internasional, ekonomi politik, dan diplomasi budaya yang sangat penting untuk dipahami, termasuk oleh masyarakat awam. Apa yang dilakukan Tiongkok hari ini menunjukkan bahwa perfilman tidak lagi sekadar seni atau industri hiburan, tetapi telah menjadi arena kompetisi kekuatan nasional di era teknologi tinggi.
Aliansi film VR yang dibentuk di Beijing, yang melibatkan lebih dari 20 universitas, lembaga riset, perusahaan, dan didukung oleh negara, mencerminkan dengan jelas pendekatan khas Tiongkok yang dikenal sebagai model “whole-of-system” atau integrasi sistem. Dalam perspektif teori developmental state dan state-led innovation, negara tidak berdiri di luar pasar melainkan berperan aktif sebagai arsitek ekosistem.
Pemerintah, industri, akademisi, dan riset disatukan dalam satu platform kolaboratif untuk mempercepat inovasi, standarisasi, produksi talenta, hingga kerja sama internasional. Model ini sangat berbeda dengan pendekatan liberal Barat yang cenderung menyerahkan inovasi budaya dan teknologi pada mekanisme pasar semata.
Masuknya film VR ke dalam kerangka regulasi resmi Administrasi Perfilman Tiongkok pada tahun 2025, lengkap dengan pemberian “Label Naga”, menandai pengakuan negara terhadap format sinematik baru ini sebagai bagian sah dari industri film nasional. Dari sudut pandang institusionalisme, regulasi ini menciptakan kepastian hukum, standar kualitas, dan legitimasi pasar, sesuatu yang sering kali justru lambat dilakukan di banyak negara Barat ketika menghadapi teknologi disruptif.
Dengan adanya kepastian tersebut, investasi, riset, dan produksi dapat bergerak lebih cepat dan terarah. Contoh konkret bisa dilihat pada bioskop VR “Hyper Vision” di kawasan seni 798 Beijing, di mana film-film seperti “Mulan 2125: Birthday Protocol” atau “Night Banquet in Tang Dynasty Palace” tidak hanya menawarkan pengalaman hiburan, tetapi juga menggabungkan narasi sejarah, identitas budaya, dan teknologi mutakhir.
Penonton tidak lagi pasif, melainkan menjadi partisipan aktif melalui head-mounted display, pelacakan gerak, pengenalan gestur, dan pelacakan mata. Dalam perspektif konstruktivisme hubungan internasional, pengalaman semacam ini membentuk cara baru publik memaknai budaya, sejarah, dan identitas Tiongkok secara imersif, jauh lebih kuat dibandingkan propaganda konvensional.
Pada saat yang sama, Festival Film Internasional Pulau Hainan ke-7 memperlihatkan bagaimana AI menjadi kekuatan transformasional dalam seluruh rantai nilai industri film, dari produksi hingga distribusi. Diskusi para tokoh industri seperti Sun Zhonghuai dari Tencent menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat bantu teknis, melainkan mesin efisiensi dan kreativitas baru.
AI menyederhanakan proses yang sebelumnya mahal dan memakan waktu, sekaligus membuka ruang bagi eksplorasi visual dan naratif yang lebih luas. Ini sejalan dengan teori revolusi industri keempat, di mana batas antara manusia dan mesin dalam produksi budaya semakin kabur.
Pernyataan sutradara Dong Runnian bahwa film fitur berbasis AI tingkat industri dapat terwujud dalam waktu tiga tahun menunjukkan betapa cepatnya laju perubahan ini. Dalam kacamata ekonomi politik internasional, AI mendemokratisasi produksi budaya.
Tidak hanya studio besar atau negara dengan modal raksasa yang bisa memproduksi film berkualitas tinggi, tetapi juga kreator kecil dan individu. Namun, Tiongkok melangkah lebih jauh dengan memastikan bahwa demokratisasi ini tetap berada dalam ekosistem nasional yang kuat, sehingga nilai ekonomi dan simboliknya tidak bocor keluar.
Transformasi ini juga memaksa sisi distribusi untuk beradaptasi. Pernyataan Huang Qunfei dari Huaxia Film Distribution menyoroti pentingnya memperkuat nilai sosial dan emosional bioskop. Ini relevan dengan teori cultural consumption, di mana pengalaman kolektif dan emosional menjadi keunggulan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh hiburan rumah. Dengan VR dan AI, bioskop di Tiongkok berpotensi berevolusi menjadi ruang pengalaman sosial-teknologis, bukan sekadar tempat menonton.
Dimensi internasional Festival Film Hainan juga sangat signifikan. Dengan 4.564 entri dari 119 negara dan wilayah, festival ini telah menjelma menjadi platform global yang kompetitif, bahkan alternatif terhadap festival-festival film Barat yang selama ini mendominasi.
Kemenangan film dari Tajikistan-Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Prancis, dan Tiongkok sendiri menunjukkan bahwa Hainan bukan festival tertutup atau nasionalistik sempit, melainkan arena soft power yang inklusif. Dalam perspektif soft power ala Joseph Nye, Tiongkok sedang membangun daya tarik global melalui budaya, teknologi, dan keterbukaan terkurasi.
Pernyataan Marco Muller bahwa lebih banyak pembuat film akan menyadari bahwa mereka memiliki “rumah baru” di Tiongkok adalah sinyal penting. Ini mencerminkan pergeseran pusat gravitasi budaya global.
Jika sebelumnya Hollywood dan Eropa Barat menjadi poros utama, kini Tiongkok menawarkan ekosistem alternatif yang didukung pasar besar, teknologi canggih, dan dukungan negara. Dalam kerangka teori pergeseran kekuatan global, ini adalah bagian transisi dari tatanan unipolar menuju multipolar, termasuk di bidang budaya dan industri kreatif.
Lebih jauh, integrasi festival dengan promosi pariwisata, misi interaktif warga, dan ruang partisipasi publik menunjukkan pendekatan holistik Tiongkok dalam mengaitkan budaya, ekonomi lokal, dan teknologi. Ini sejalan dengan strategi domestic-international dual circulation, yaitu konsumsi domestik diperkuat sambil tetap membuka diri pada interaksi global. Film, VR, dan AI menjadi jembatan antara warga lokal, wisatawan, dan komunitas internasional.
Oleh karena itu, aliansi VR di Beijing dan transformasi AI di Festival Film Hainan menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya mengejar ketertinggalan dari Barat, tetapi sedang mendefinisikan ulang masa depan perfilman global. Dengan menggabungkan kekuatan negara, pasar, teknologi, dan budaya, Tiongkok membangun ekosistem yang tangguh, adaptif, dan berorientasi jangka panjang.
Bagi masyarakat umum, ini berarti satu hal sederhana namun penting ketika film di masa depan tidak lagi sekadar tontonan, melainkan pengalaman, medium identitas, dan instrumen kekuatan global. Dan dalam perlombaan ini, Tiongkok telah melangkah jauh di depan, bukan dengan retorika, tetapi dengan struktur nyata, teknologi konkret, dan visi strategis yang konsisten.