Hong Kong, Bharata Online - Para pakar industri memperingatkan bahwa peningkatnya volatilitas di pasar minyak global, yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dapat menimbulkan ketidakpastian yang signifikan bagi perekonomian Hong Kong jika terus berlanjut.
Meskipun Selat Hormuz menjadi satu-satunya jalur maritim dari Teluk Persia ke laut lepas, yang dilalui lebih dari seperempat minyak dunia yang diangkut melalui laut dan sekitar seperlima pengiriman gas alam cair (LNG) global, belum pernah ditutup sepenuhnya atau secara permanen, dan setiap guncangan strategis di kawasan tersebut telah tercatat pada grafik harga global.
Lonjakan tajam harga minyak telah mulai berdampak pada konsumen dalam berbagai cara. Cathay Pacific Airways menaikkan biaya tambahan bahan bakar pada 18 Maret 2026, dengan rute jarak jauh mengalami kenaikan sekitar 100 persen. Maskapai ini juga memperpanjang penangguhan penerbangan ke Riyadh dan Dubai hingga akhir April 2026.
Hong Kong Airlines dan Greater Bay Airlines juga telah menaikkan biaya tambahan bahan bakar mereka. Kenaikan harga minyak, ditambah dengan gangguan di Selat Hormuz, mendorong kenaikan biaya pengiriman dan menyebabkan penundaan di seluruh jaringan logistik global.
Sementara itu, saham Hong Kong berfluktuasi antara kenaikan dan penurunan, karena investor bergulat dengan volatilitas yang meningkat di pasar minyak.
Namun, para pakar mengatakan mungkin ada peluang juga, dengan Hong Kong dapat diuntungkan dari posisinya sebagai pusat penerbangan. Dengan maskapai penerbangan Timur Tengah beroperasi dengan kapasitas yang berkurang, kota ini mungkin dapat merebut pangsa yang lebih besar dari lalu lintas penumpang transit.
Selain itu, Hong Kong menarik sebagai tujuan tempat berlindung yang aman. Karena investor fokus pada diversifikasi dan keamanan, konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung dapat mendorong aliran modal ke pusat keuangan Asia tersebut.
"Jika Anda melihat di industri keuangan, ada kemungkinan beberapa investor akan mencoba mencari tempat berlindung yang aman di luar Timur Tengah. Dan untuk aspek itu, Hong Kong juga memiliki beberapa peluang untuk menarik sebagian investasi ini ke kota ini," ujar Gary Ng, Ekonom Senior di Natixis Corporate and Investment Bank.
Namun kekhawatiran tetap ada mengenai potensi resesi dan inflasi. Para pakar berpendapat bahwa dampak negatif konflik Timur Tengah terhadap Hong Kong mungkin lebih besar daripada manfaatnya.
"Secara global, jika kita mulai melihat harga komoditas, baik itu minyak, makanan, dan lain-lain, naik, maka hal itu pasti dapat menaikkan harga di Hong Kong. Tekanan inflasi akan meningkat dan pada akhirnya dapat merugikan permintaan dari konsumen dan juga bisnis," kata Gary Ng.
Para pakar mengatakan, hanyak hal akan bergantung pada durasi konflik. Mereka memperingatkan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, Hong Kong tidak akan mampu tetap aman menghadapi badai global seperti itu.