BEIJING, Radio Bharata Online - Metode pencucian uang yang digunakan para penjahat saat ini menjadi semakin beragam dan cerdas, demikian sebagaimana dikatakan Pengadilan Tinggi Rakyat Beijing (BHPC), yang menekankan bahwa masyarakat, tidak boleh membantu para penjahat mencuci uang demi keuntungan kecil.

Media melaporkan, sejak tahun 2021 hingga 31 Oktober 2023, pengadilan Beijing telah mengeluarkan putusan atas 40 kasus pencucian uang, dengan total 44 orang yang terlibat, dan satu kasus diputuskan melalui tingkat banding. Meskipun jumlah kasus pencucian uang meningkat dalam tiga tahun terakhir, jumlah kasus secara keseluruhan masih relatif rendah.

Menurut BHPC, sebagian besar terdakwa yang terlibat dalam kasus ini masih usia muda, dan mampu menggunakan metode khusus, dengan tingkat pendidikan yang umumnya tinggi. Sebanyak 60 persen dari mereka yang dituntut adalah mereka yang berusia di bawah 40 tahun, demikian pula mereka yang berpendidikan perguruan tinggi atau lebih.

Jenis tindak pidana asal yang terkait dengan pencucian uang, sebagian besar adalah tindak pidana korupsi dan suap sebesar 50 persen, serta tindak pidana yang mengganggu ketertiban pengelolaan keuangan sebesar 27,5 persen. Pelanggaran asal lainnya, termasuk penipuan keuangan dan kejahatan narkotika.

Menurut Sun Lingling, wakil kepala BHPC, pencucian uang kini semakin canggih dan terselubung, sehingga menyulitkan penegak hukum untuk secara efektif melacak, dan mengidentifikasi sumber, sifat, dan tujuan dana.

Untuk menghindari pengawasan, beberapa pelaku kejahatan memanfaatkan lemahnya kesadaran hukum, atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan kecil dari masyarakat, untuk membujuk mereka membantu menyelesaikan proses pencucian uang, yang berarti lebih banyak orang bisa terlibat dalam kejahatan pencucian uang.

Menghadapi perubahan sifat kejahatan pencucian uang, pengadilan Beijing akan menyita keuntungan ilegal para pelaku sesuai dengan hukum, memastikan tidak ada yang mendapat keuntungan dari kegiatan kriminal. (Global Times)