Makau, Bharata Online - Saat dunia memperingati Hari Buku Sedunia pada hari Kamis (23/4), seorang pakar tentang Tiongkok terkemuka Brasil menekankan bahwa kerja sama buku adalah salah satu alat yang paling ampuh dan abadi untuk dialog antar peradaban.
Evandro Menezes de Carvalho, seorang Profesor di Universitas Politeknik Makau dan penerima Penghargaan Persahabatan Pemerintah Tiongkok, mengatakan bahwa buku tidak hanya berfungsi sebagai wahana informasi tetapi juga sebagai gudang pandangan dunia dan memori sejarah, menjadikannya pusat pertukaran antara Tiongkok, Brasil, dan Amerika Latin.
"Sebagai penulis dan editor, saya telah mendedikasikan diri untuk menghasilkan dan menyebarkan konten yang menjelaskan Tiongkok kepada masyarakat Brasil dan (melibatkan) audiens dengan cara yang teliti namun mudah diakses. Melalui inisiatif penerbitan saya, saya telah berkontribusi dalam menciptakan platform untuk pertukaran intelektual, membawa perspektif Tiongkok ke dalam dialog dengan akademisi Brasil, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Buku dan proyek editorial saya bertujuan tidak hanya untuk memberi informasi tetapi juga untuk membingkai ulang bagaimana Tiongkok dipahami, beralih dari tatanan yang jauh menjadi mitra peradaban yang kompleks dan mudah dipahami," jelasnya.
Carvalho juga menunjuk pada tren budaya yang berkembang di luar dunia penerbitan. Ia mengamati bahwa banyak pengunjung asing ke Tiongkok tidak lagi puas hanya dengan mengamati dari kejauhan.
Ia mencatat bahwa di media sosial luar negeri, gelombang anak muda Barat telah merangkul gagasan "menjadi orang Tiongkok" dengan mencoba pengalaman lokal sehari-hari.
Pada saat yang sama, optimalisasi berkelanjutan kebijakan masuk Tiongkok, termasuk layanan perjalanan yang lebih nyaman dan pengaturan bebas visa, telah memudahkan para pengunjung ini untuk mengubah minat mereka menjadi perjalanan nyata di seluruh negeri.
"Apa yang kita amati di Tiongkok adalah fenomena pengunjung asing yang tidak hanya bepergian tetapi juga mengidentifikasi diri dengan Tiongkok. Wisatawan asing semakin ingin tinggal di Tiongkok daripada sekadar mengamatinya, terlibat dengan kehidupan sehari-hari, praktik budaya dan sosial. Tren ini diperkuat oleh langkah-langkah kebijakan yang memfasilitasi akses, seperti rezim bebas visa dan peningkatan infrastruktur digital dan konsumsi untuk orang asing," ujarnya.