Singapura, Radio Bharata Online - Para peserta Dialog Shangri-La menyatakan dukungan mereka terhadap Inisiatif Keamanan Global yang diusulkan Tiongkok dan prinsip Satu Tiongkok saat pertemuan puncak berakhir pada hari Minggu (2/6).

Dialog Shangri-La ke-21 berlangsung dari hari Jum'at (31/5) hingga Minggu (2/6) di Singapura, dengan partisipasi lebih dari 550 delegasi dari lebih dari 40 negara dan wilayah.

Beberapa pejabat militer senior serta profesional media mengatakan bahwa Tiongkok memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan global, dan dukungan masyarakat internasional untuk prinsip satu-Tiongkok adalah inti dari pencapaian tujuan ini.

"Ya, saya telah mendengarkan dengan seksama pidato menteri (pertahanan) Anda, dan pidato itu dirumuskan dengan sangat baik, sangat jelas, dan sangat seimbang. Saya sangat menikmati pidatonya. Dan tentu saja, (ini adalah) ekspresi dari pandangan Tiongkok, dan Anda memiliki hak untuk melakukan itu. Dan sebagai kekuatan global, seperti halnya Tiongkok, memiliki hak dan kewajiban dan sebagai kekuatan global yang besar, saya ingin sekali melihat Tiongkok memainkan peran global," ungkap Wakil Menteri Pertahanan Finlandia Esa Pulkkinen.

"Saya pikir posisi Tiongkok sangat jelas, khususnya untuk prinsip Satu Tiongkok. Kami mendukung kebijakan satu Tiongkok sepanjang waktu," ungkap Jenderal Nem Sowath, Direktur Jenderal Departemen Umum Kebijakan dan Urusan Luar Negeri di bawah Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja.

"GSI Tiongkok, yang merupakan Prakarsa Keamanan Global, sejalan dengan misi awal Tiongkok untuk mencari harmoni yang besar bagi dunia, dan juga menunjukkan perasaan mendalam budaya Tiongkok untuk memberi manfaat bagi dunia. Amerika Serikat seharusnya tidak mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok dengan Taiwan, karena PBB telah membuat prinsip Satu Tiongkok menjadi sangat jelas, dan dengan berpegang pada prinsip ini bahwa Taiwan adalah bagian dari Tiongkok, maka kita dapat menghindari konflik geopolitik perang dingin atau perang panas, bahwa ada kekuatan luar yang mencoba menciptakan kekacauan di wilayah kita," ujar Zhong Tianxiang, mantan pemimpin redaksi media Malaysia, Nanyang Siang Pau.