Seoul, Radio Bharata Online - Seorang pemimpin terkemuka komunitas bisnis Jepang memuji KTT Bisnis Tiongkok-Jepang-Korea Selatan ke-8, yang diselenggarakan pada hari Senin (27/5) di Seoul, Korea Selatan, sebagai sesuatu yang sangat penting bagi perkembangan Asia dan kemajuan dunia.

Masakazu Tokura, Ketua Federasi Bisnis Jepang, kelompok lobi bisnis paling kuat di negara itu yang lebih dikenal sebagai Keidanren, mengatakan bahwa pertukaran dan dialog di antara ketiga negara tersebut akan membantu mereka mengatasi tantangan di masa depan.

"Saya rasa sangat penting saat ini bagi perwakilan dari Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan untuk saling bertukar pandangan dan mengatasi masalah melalui dialog. Kami di komunitas ekonomi menyambut baik hal ini. Dunia akan menghadapi tantangan seperti Covid-19, perubahan iklim, dan masalah lain yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, dan untuk menyelesaikannya diperlukan inovasi teknologi. Saya percaya bahwa Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan harus berbagi pengalaman yang maju dan bekerja sama untuk menyelesaikan beberapa masalah sulit, yang memiliki arti positif bagi perkembangan Asia dan kemajuan dunia," ujar Tokura, berbicara kepada China Media Group (CMG).

Pengusaha Jepang ini juga mengungkapkan harapannya bahwa ketiga negara akan melanjutkan negosiasi perjanjian perdagangan bebas Tiongkok-Jepang-Korea Selatan sesegera mungkin untuk membawa manfaat yang lebih nyata bagi perusahaan dan masyarakat mereka.

"Kami dalam komunitas ekonomi sangat mementingkan pelaksanaan perdagangan dan kegiatan ekonomi yang bebas dan adil, jadi saya pikir sangat penting untuk bekerja sama untuk membangun sistem ekonomi internasional yang bebas dan adil. Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sekarang bekerja sama dalam kerangka Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). Selain itu, saya berharap dapat mempercepat dimulainya kembali negosiasi perjanjian perdagangan bebas Tiongkok-Jepang-Korea Selatan," katanya.

Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-yeol, Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, dan sekitar 240 perwakilan bisnis dan pemerintah dari ketiga negara menghadiri pertemuan tersebut.