Singapura, Radio Bharata Online - Kekuatan-kekuatan eksternal memainkan peran destruktif dalam situasi Laut Tiongkok Selatan, kata mantan Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai, di sela-sela Dialog Shangri-La ke-21 di Singapura.
Menggarisbawahi posisi Tiongkok yang telah lama berdiri mengenai kedaulatan, Cui juga menunjukkan bahwa negara-negara regional memiliki kerangka kerja untuk menangani sengketa di Laut Tiongkok Selatan, tetapi keterlibatan kekuatan eksternal telah meningkatkan situasi.
"Kami memiliki posisi yang sudah lama ada mengenai kedaulatan di Laut Tiongkok Selatan, kedaulatan atas pulau-pulau dan terumbu karang dan sebagainya, dan hak-hak maritim kami yang sah. Pada saat yang sama, kami menyadari bahwa beberapa negara lain mungkin memiliki beberapa perselisihan, jadi kami siap untuk bekerja sama dengan mereka untuk solusi damai dan diplomatik. Sebenarnya, kami memiliki DOC (Deklarasi Perilaku Para Pihak di Laut Tiongkok Selatan) di antara negara-negara yang relevan, dan semua negara, Tiongkok dan anggota negara-negara ASEAN berkomitmen dalam DOC yang akan menggunakan cara-cara damai, dan kami akan terus mengembangkan hubungan bilateral. Jadi, jika semua orang mengikuti prinsip DOC, tidak ada masalah, dan ini sudah berlangsung cukup lama. Kemudian dengan adanya intervensi dari Amerika Serikat, dengan apa yang disebut sebagai strategi Indo-(Pasifik) Amerika Serikat, maka kita mengalami eskalasi. Jadi sangat disayangkan bahwa kekuatan eksternal memainkan peran yang merusak," papar Cui.
"Tujuan pembangunan Tiongkok adalah untuk memodernisasi negara kami sendiri, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat kami sendiri, untuk memenuhi aspirasi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Tiongkok. Tidak pernah ada niat kami untuk bersaing dengan Amerika Serikat untuk mendominasi dunia. Pertama, kami tidak pernah percaya bahwa negara mana pun harus mencari dominasi di dunia. Kedua, kami percaya bahwa semua negara harus memiliki kedudukan yang setara dan kita harus bekerja sama untuk komunitas bangsa-bangsa. Jadi, kami tidak berpikir bahwa mencari dominasi adalah tujuan kami. Mungkin Amerika Serikat atau beberapa negara lain akan memiliki mentalitas seperti itu, tetapi kami rasa hal itu tidak masuk akal di abad ke-21 ini," jelasnya.
Dialog Shangri-La 2024, pertemuan puncak pertahanan utama di Asia, diselenggarakan pada 31 Mei hingga 2 Juni 2024.