Beijing, Bharata Online - Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok mendesak Jepang untuk mempercepat pemusnahan senjata kimia yang ditinggalkannya di Tiongkok pada hari Jumat (5/12), dengan alasan ancaman lingkungan dan kesehatan masyarakat yang terus berlanjut.
Pemerintah Tiongkok merilis buku putih berjudul "Pengendalian Senjata, Perlucutan Senjata, dan Nonproliferasi Tiongkok di Era Baru" pada akhir November 2025, yang menyatakan Jepang harus menghancurkan secara menyeluruh senjata kimia Jepang yang terbengkalai atau Japanese abandoned chemical weapon (JACW), dengan alasan tanggung jawab historis dan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkan senjata tersebut terhadap rakyat Tiongkok.
"Selama perang agresi melawan Tiongkok, dengan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, militeris Jepang menggunakan senjata kimia dalam jumlah besar, yang menyebabkan lebih dari 200.000 korban jiwa militer dan sipil Tiongkok. Untuk menutupi kejahatannya setelah dikalahkan, pihak Jepang meninggalkan sejumlah besar senjata kimia di wilayah Tiongkok, meracuni lebih dari 2.000 orang. Hingga saat ini, JACW masih sangat membahayakan keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat serta merusak lingkungan," ujar Jiang Bin, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok, saat menanggapi pertanyaan terkait dalam konferensi pers.
"Pihak Jepang seharusnya telah menghancurkan senjata kimia yang terbengkalai di Tiongkok dengan cara yang aman, bersih, dan menyeluruh jauh lebih awal. Namun, proses pemusnahan secara keseluruhan telah sangat tertunda karena kurangnya upaya proaktif dari pihak Jepang. Menghilangkan bahaya JACW merupakan tanggung jawab historis, politik, dan hukum Jepang yang tak terelakkan, sekaligus kewajiban internasional berdasarkan Konvensi Senjata Kimia. Pihak Tiongkok mendesak pihak Jepang untuk melakukan introspeksi serius atas kejahatan agresinya, dengan sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya, meningkatkan masukan dalam berbagai aspek, dan melakukan upaya maksimal untuk mempercepat proses pemusnahan JACW. Kami meminta pihak Jepang untuk berupaya semaksimal mungkin mengumpulkan dan memberikan informasi tentang JACW kepada pihak Tiongkok tepat waktu, sepenuhnya membantu kami dalam pencarian dan identifikasi petunjuk, dengan sungguh-sungguh memikul tanggung jawabnya dalam pengelolaan air dan tanah yang tercemar, sehingga dapat memulihkan lingkungan yang aman dan bersih bagi rakyat Tiongkok sedini mungkin, dan 'dunia yang bebas dari senjata kimia' bagi umat manusia," paparnya.