Guangdong, Bharata Online - Provinsi Guangdong di Tiongkok Selatan sedang mempromosikan penggunaan jaring anti-burung di lahan pertanian untuk melindungi burung migran sekaligus menjaga mata pencaharian petani.
Sejak awal bulan ini, hampir 130.000 burung migran telah tiba di Guangdong, menggunakan lahan pertanian, kebun, dan tambak ikan di wilayah tersebut sebagai tempat makan alami. Hal itu menyebabkan kerusakan tanaman yang signifikan bagi petani setempat.
"Terkadang, lebih dari 100 burung hinggap di ladang kami. Mereka benar-benar merusak daun sayuran, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi manusia," kata Zhong Jinchuan, seorang petani dari Kabupaten Huidong di Kota Huizhou, provinsi tersebut.
Karena saat ini adalah musim puncak penanaman sayuran musim dingin, banyak petani telah memasang jaring anti-burung sederhana di ladang mereka untuk melindungi tanaman mereka. Namun, jaring-jaring ini seringkali menimbulkan risiko serius bagi satwa liar.
"Setelah dipasang, burung hanya bisa melihat tiang-tiangnya. Jaring itu sendiri tidak selalu mudah terlihat. Jika burung menabraknya, cakar, bulu, dan paruhnya bisa terjerat, menyebabkan cedera serius," ujar Li Yi, seorang pejabat dari Biro Kehutanan Kota Huizhou.
Menyadari tantangan tersebut, pemerintah setempat telah mengganti jaring-jaring berbahaya ini dengan alternatif yang aman dan ramah burung. Jaring baru ini memiliki tali yang lebih tebal dan ukuran lubang yang lebih kecil, yang mencegah burung tanpa menjebaknya.
"Jaring ini menggunakan tali yang lebih tebal dan memiliki lubang yang lebih kecil, sehingga ketika burung menabraknya, kaki mereka tidak terjepit. Mereka hanya terpental dan terbang pergi. Sayuran kita tetap aman, dan burung-burung pun tidak dirugikan," jelas Zhong.
Guangdong juga telah memperkenalkan kebijakan untuk memberikan kompensasi kepada petani atas kerugian tanaman yang disebabkan oleh satwa liar yang dilindungi, termasuk burung migran.