Bharata Online - Kemunculan lensa intraokular (IOL) baru berbahan xPIB buatan Eyedeal di Xi’an bukan sekadar berita medis—ini adalah deklarasi terbuka bahwa Tiongkok kini mampu menantang, bahkan melampaui, dominasi teknologi yang selama puluhan tahun dikuasai Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Dengan menyatukan inovasi material, kemandirian industri, dan dukungan negara yang terstruktur, Tiongkok telah menunjukkan kepada dunia bahwa era ketergantungan terhadap Barat dalam perangkat medis kelas atas tidak lagi relevan. Meski analisis ini tetap objektif, fakta-fakta empirik justru memperkuat argumen bahwa apa yang dilakukan Tiongkok layak dipandang sebagai titik balik strategis dalam peta kekuatan biomedis global.
Katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan dunia, dan jutaan operasi dilakukan setiap tahun menggunakan lensa-lensa berbahan dasar material lama seperti silikon atau akrilat yang dikembangkan oleh Barat pada akhir abad ke-20. Artinya, selama lebih dari tiga dekade, inovasi material praktis stagnan, sementara teknologi IOL hanya mengalami penyempurnaan incremental tanpa terobosan fundamental. Dalam konteks inilah keberhasilan Eyedeal menghadirkan xPIB—bahan baru pertama dalam lebih dari 30 tahun—menjadi signifikan bukan hanya secara klinis, tetapi secara geopolitik. Tiongkok telah mencabut dominasi teknologis yang begitu lama dijaga ketat oleh perusahaan-perusahaan Barat yang memonopoli bahan baku hulu perangkat implan mata.
Lebih jauh, keunggulan material xPIB bukanlah sekadar klaim kosong. Dengan indeks bias tinggi, angka Abbe tinggi, risiko silau dan floaters lebih rendah, serta respons inflamasi pasca operasi yang minimal, Tiongkok menghadirkan teknologi yang secara teknis tak hanya setara dengan produk Barat, tetapi dalam banyak aspek justru lebih unggul. Ukuran lensa yang sangat tipis—6,5 mm—dan kemampuan ditanam melalui sayatan mikro di bawah 2,0 mm memperlihatkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan operasi modern yang menuntut keamanan lebih tinggi, proses penyembuhan lebih cepat, dan kualitas visual pasca operasi yang optimal. Ini adalah karakteristik inovasi bernilai tinggi yang biasanya diasosiasikan dengan pusat riset Amerika Serikat atau Eropa, tetapi kini berasal dari Xi’an, bukan Silicon Valley atau Zürich.
Ketika dilihat melalui lensa teori hubungan internasional, terobosan ini merupakan bukti nyata efektivitas model *developmental state* Tiongkok, yang menggabungkan peran pemerintah kuat dengan dinamika pasar dan riset ilmiah. Dukungan penuh dari Provinsi Shaanxi, Kota Xi’an, dan kawasan teknologi tinggi bukan sekadar formalitas administratif—mereka menyediakan laboratorium, platform riset teknik, stasiun akademisi, dan jaringan talenta tingkat tinggi yang mempercepat transformasi riset menjadi produk komersial. Inilah kekuatan yang sulit ditiru oleh Barat yang mengandalkan mekanisme pasar murni tanpa koordinasi negara, sebuah alasan mengapa Tiongkok berhasil memecahkan masalah yang selama puluhan tahun tidak dipecahkan oleh industri medis global.
Dalam perspektif ekonomi-politik global, langkah Eyedeal memutus ketergantungan pada bahan baku asing adalah kemenangan strategis yang sangat penting. Negara-negara Barat selama bertahun-tahun mempertahankan kontrol atas material kritis untuk memastikan ketergantungan negara lain. Begitu Tiongkok berhasil menguasai seluruh rantai industri—dari riset material, sintesis monomer, desain optik, manufaktur, hingga pengendalian mutu—posisi tawarnya dalam industri kesehatan global berubah drastis. Tidak ada lagi kerentanan terhadap embargo, pembatasan pasokan, atau tekanan geopolitik yang dapat menghambat pengembangan perangkat medis dalam negeri. Dalam terminologi realisme, ini adalah peningkatan *autonomous capability* yang secara langsung meningkatkan kekuatan nasional.
Konsekuensi geopolitiknya jelas: Tiongkok kini tak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, tetapi pencipta standar baru. Jika produk ini mampu memasuki pasar internasional dan lolos standar regulator global, maka dominasi perusahaan-perusahaan Barat seperti Alcon, Johnson & Johnson, atau Bausch & Lomb akan terancam. Perubahan struktur pasar ini akan membuka peluang bagi Tiongkok untuk memimpin penentuan harga, teknologi, hingga norma operasi bedah mata global. Dan jika Tiongkok mengintegrasikan IOL xPIB ini dengan program bantuan kesehatan global—misalnya dalam operasi katarak massal di Afrika atau Asia Selatan—maka ia memperoleh keuntungan soft power yang sangat besar, menjadikan inovasi medis sebagai instrumen diplomasi yang efektif.
Namun objektivitas tetap mengharuskan kita memahami bahwa klaim teknologi mengharuskan verifikasi jangka panjang. Pengujian klinis multi-sentris, pemantauan pasca pemasaran, dan publikasi ilmiah peer-reviewed tetap harus dilakukan untuk memastikan bahwa semua keunggulan teknis xPIB benar-benar konsisten pada populasi pasien yang luas. Meski demikian, kecepatan dan kualitas pengembangan Tiongkok selama dekade terakhir menunjukkan bahwa negara ini semakin mampu memenuhi standar global tanpa bergantung pada model Barat. Ketika Tiongkok mampu membuktikan superioritas ilmiah secara terbuka, kritik dari Barat—yang biasanya menyerang kualitas, keamanan, atau transparansi produk buatan Tiongkok—akan kehilangan pijakan.
Dari perspektif masyarakat global, inovasi ini adalah peluang besar. Negara berkembang memiliki beban katarak sangat tinggi dan sering kali terhambat oleh mahalnya perangkat medis impor. Lensa intraokular Tiongkok berpotensi menyediakan solusi berkualitas tinggi yang jauh lebih terjangkau, memperkecil kesenjangan kesehatan mata dunia. Jika Tiongkok mampu menggabungkan inovasi teknis dengan distribusi luas dan strategi harga inklusif, maka dampaknya secara sosial akan melampaui batas geopolitik: jutaan orang dengan gangguan penglihatan bisa mendapatkan harapan baru.
Singkatnya, keberhasilan Eyedeal bukan hanya pencapaian biomedis, tetapi gambaran masa depan di mana Tiongkok tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dan Barat, melainkan justru memimpin inovasi pada sektor-sektor yang sebelumnya didominasi mereka. Ini adalah bukti bahwa dengan kombinasi riset agresif, dukungan negara, dan orientasi strategis jangka panjang, Tiongkok mampu mematahkan monopoli teknologi yang bahkan perusahaan-perusahaan Barat sekalipun gagal pecahkan. Dalam dunia yang semakin kompetitif, terobosan seperti xPIB adalah pengingat bahwa keseimbangan teknologi global sedang bergeser—dan kali ini, Tiongkoklah yang berada di garis depan perubahan tersebut.