Baghdad, Bharata Online - Para insinyur perminyakan Tiongkok menghidupkan kembali ladang minyak marjinal yang dulunya terbengkalai di Baghdad tenggara, Irak, menggunakan teknologi pengasaman canggih untuk membuka minyak mentah yang terperangkap di bawah formasi batuan karbonat yang kompleks.

Menjelang Festival Musim Semi 2026 pada 17 Februari 2026, operasi pengasaman sedang berlangsung di sumur ke-140 Ladang Minyak Baghdad Timur.

Operasi ini dipimpin oleh insinyur produksi minyak Li Yang, yang berasal dari Daqing, tempat basis industri minyak bersejarah Tiongkok berada.

Setelah bergabung dengan ladang minyak tersebut dua tahun lalu, Li kini mengawasi operasi di lokasi dan membimbing para peserta pelatihan Irak.

Tugasnya meliputi membimbing operator untuk memasang ribuan meter pipa melingkar jauh di bawah tanah, menyuntikkan asam untuk melarutkan penyumbatan di batuan karbonat yang keras dan membuka saluran agar minyak mentah yang terperangkap dapat mengalir.

Sumur tersebut mencapai kedalaman sekitar 3.600 meter, dan seluruh operasi memakan waktu lebih dari 20 jam.

Li juga menggunakan lokasi tersebut sebagai ruang kelas, membimbing peserta pelatihan lokal bersama rekan-rekan Irak.

Berbicara di lokasi sumur tentang penerapan teknik yang berulang, Li mengungkapkan keyakinan yang teguh pada pekerjaannya.

"Operasi pengasaman telah dilakukan di ladang minyak kami pada lebih dari 100 sumur minyak. Kami sudah terbiasa dengannya. Kami sangat yakin dengan teknologi kami," kata Li.

Di balik keyakinan yang tenang itu terdapat terobosan teknis selama bertahun-tahun. Melalui inovasi termasuk pengasaman sumur horizontal cabang tulang ikan, pengeboran perpindahan besar, dan pemodelan geologi yang disempurnakan, ladang minyak marginal yang dulunya terbengkalai secara bertahap telah berubah. Akhir tahun lalu, para insinyur Tiongkok menyelesaikan sumur horizontal terpanjang di Irak, dengan bagian lateral yang membentang sepanjang 3.535 meter.

Merefleksikan warisan keluarganya di industri minyak Tiongkok, Li menarik persamaan antara generasi masa lalu dan masa kini.

“Saya ingat kakek saya pernah bercerita bahwa selama kampanye ladang minyak besar-besaran (pada tahun 1960-an), beberapa ahli perminyakan Soviet datang untuk membimbing mereka dalam pengembangan ladang minyak. Saat itu, kakek saya bahkan mempelajari beberapa bahasa Rusia dasar untuk berkomunikasi lebih baik. Di generasinya, mereka masih mempelajari teknologi pengembangan minyak dari negara lain, tetapi sekarang, sebagai insinyur perminyakan dari generasi saya, saya membawa teknologi canggih Tiongkok untuk mendukung pengembangan ladang minyak di Irak,” ujar Li.

Ladang Minyak Baghdad Timur kini memiliki kapasitas produksi tahunan lebih dari 3,5 juta ton, menjadikannya pusat energi utama bagi Baghdad. Selain mendukung pasokan listrik lokal dan kehidupan sehari-hari, ladang minyak ini juga mendorong pemulihan ekonomi ibu kota.