Beijing, Radio Bharata Online - Kunjungan Kanselir Jerman, Olaf Scholz, ke Tiongkok merupakan respon yang kuat terhadap proteksionisme Barat yang menuntut pemisahan dan penghilangan risiko, demikian sebuah komentar yang diterbitkan oleh China Media Group (CMG) pada hari Rabu (17/4).

Versi bahasa Indonesia dari komentar tersebut adalah sebagai berikut:

Didampingi oleh tiga menteri dan sekelompok pemimpin perusahaan-perusahaan besar Jerman, termasuk Siemens, BMW dan Mercedes-Benz, Kanselir Jerman Olaf Scholz melakukan perjalanan ke tiga kota di Tiongkok dalam tiga hari dan mengunjungi banyak perusahaan dengan fokus pada inovasi dan kerja sama. Kunjungan ini diikuti secara luas oleh media Barat.

Pada hari Selasa (16/4), hari terakhir perjalanan Scholz, Presiden Tiongkok bertemu dengannya di Beijing. Kedua pemimpin tersebut melakukan pertukaran yang mendalam mengenai posisi hubungan Tiongkok-Jerman, serta isu-isu internasional yang mendesak.

Xi menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan yang mendasar antara Tiongkok dan Jerman, dan menambahkan bahwa kedua negara tidak menimbulkan ancaman keamanan satu sama lain.

Kerja sama yang saling menguntungkan antara Tiongkok dan Jerman tidak menciptakan "risiko", tetapi berfungsi sebagai jaminan untuk hubungan yang stabil dan memberikan peluang untuk pengembangan di masa depan, kata Xi kepada Scholz.

Scholz mengatakan bahwa Jerman bersedia untuk lebih memperkuat hubungan bilateral dengan Tiongkok, memperdalam dialog bilateral dan kerja sama di berbagai bidang, dan mempromosikan pertukaran antar masyarakat di bidang-bidang seperti pendidikan dan budaya, yang "penting bagi kedua negara dan dunia pada umumnya".

Kedua belah pihak sepakat untuk mendukung perdagangan bebas dan globalisasi ekonomi, serta bersedia untuk bersama-sama mengatasi tantangan global dan menjaga perdamaian dan stabilitas dunia.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tiongkok dan Jerman memiliki posisi yang sama dalam banyak isu penting dan dapat bekerja sama untuk memberikan stabilitas dan kepastian di dunia.

Tahun ini menandai ulang tahun ke-10 pembentukan kemitraan strategis menyeluruh antara Tiongkok dan Jerman. Sejak lama, hubungan Tiongkok-Jerman telah berada di garis depan dalam hubungan Tiongkok dengan negara-negara besar di Barat.

Kedua pemimpin saling berkomunikasi erat satu sama lain, dan mekanisme seperti konsultasi antara kedua pemerintah dan dialog tingkat tinggi di bidang strategis, keuangan, dan bidang lainnya berjalan dengan efektif. Hal ini menjadi dasar bagi kerja sama yang berkelanjutan untuk kerja sama Tiongkok-Jerman dan juga mendorong perkembangan hubungan Tiongkok-Eropa yang stabil.

Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap geopolitik global telah mengalami perubahan besar, dan perkembangan hubungan Tiongkok-Jerman telah menghadapi tantangan. Kunjungan Scholz ke Tiongkok ini juga disertai dengan banyak keributan politik.

Dipengaruhi oleh kebijakan AS yang membendung Tiongkok, ada retorika negatif tentang apa yang disebut "ancaman perkembangan Tiongkok" di Eropa dan bahkan di Jerman. Uni Eropa sedang melakukan investigasi anti-subsidi terhadap kendaraan listrik Tiongkok dan produk lainnya atas nama "de-risking". Beberapa media Eropa telah menggembar-gemborkan bahwa Jerman harus "mengurangi ketergantungan ekonominya pada Tiongkok".

Namun, baik kunjungan Kanselir Scholz ke Tiongkok maupun kesediaan komunitas bisnis Jerman untuk menyelidiki pasar Tiongkok menunjukkan bahwa "kerangka" hubungan Tiongkok-Jerman masih kokoh, dan kebijakan pemerintah Jerman terhadap Tiongkok secara keseluruhan tetap rasional dan pragmatis.

Pemerintah Federal Jerman menunjukkan bahwa kunjungan Scholz mengikuti tema aksi bersama yang berkelanjutan. Beberapa media Jerman percaya bahwa Jerman harus berusaha untuk memperkuat kerjasama dengan Tiongkok, baik untuk menghadapi tantangan perlambatan ekonominya sendiri maupun untuk menyelesaikan krisis Ukraina.

Dalam situasi saat ini, pertanyaan kuncinya adalah bagaimana cara mencapai perkembangan yang stabil dan berkelanjutan dalam hubungan Tiongkok-Jerman? Di satu sisi, Jerman harus benar-benar menyadari bahwa perkembangan Tiongkok bukanlah ancaman bagi Jerman dan Eropa, dan bahwa kerja sama antara kedua belah pihak jauh lebih penting daripada persaingan dan perbedaan. Ini adalah dasar untuk meningkatkan rasa saling percaya yang strategis.

Di sisi lain, Tiongkok dan Jerman harus meningkatkan peran kerja sama ekonomi dan perdagangan sebagai penyeimbang hubungan bilateral.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua dan ketiga di dunia, Tiongkok dan Jerman memiliki rantai industri dan pasokan yang saling terkait erat, pasar yang sangat saling bergantung, dan kerja sama ekonomi yang tangguh.

Saat ini, lebih dari 5.000 perusahaan Jerman beroperasi di pasar Tiongkok.

Menurut data statistik dari bank sentral Jerman, investasi langsung Jerman di Tiongkok naik 4,3 persen dari tahun ke tahun dan mencapai rekor tertinggi 11,9 miliar euro (sekitar 205,6 triliun rupiah) pada tahun lalu.

Data dari Kantor Statistik Federal Jerman menunjukkan bahwa perdagangan bilateral antara Jerman dan Tiongkok mencapai 253,1 miliar euro (sekitar 4.372 triliun rupiah) pada tahun 2023, menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Jerman selama delapan tahun berturut-turut.

Meskipun ada seruan dari beberapa pihak di Barat untuk memisahkan diri, mengganggu rantai industri dan pasokan, serta tidak mengambil risiko dengan Tiongkok, banyak perusahaan Jerman tetap optimis dengan pasar Tiongkok.

Laporan survei kepercayaan bisnis yang dirilis oleh Kamar Dagang Jerman di Tiongkok awal tahun ini menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen perusahaan yang disurvei berencana untuk tetap berada di Tiongkok, dan 54 persen di antaranya berencana untuk meningkatkan investasi di negara tersebut.

Industri otomotif Jerman telah dengan jelas menyatakan penentangannya terhadap investigasi anti-subsidi Uni Eropa terhadap kendaraan listrik Tiongkok.

Dalam pertemuan tersebut, baik pemimpin Tiongkok maupun Jerman mengatakan bahwa mereka menentang proteksionisme dan menyatakan harapan untuk memperkuat kerja sama praktis.

Pihak Tiongkok telah memetakan arah untuk memperluas kerja sama ekonomi Tiongkok-Jerman, menunjukkan bahwa kerja sama saling menguntungkan kedua negara masih memiliki potensi besar untuk direkam, baik di bidang tradisional seperti manufaktur mesin dan mobil, dan di bidang-bidang yang sedang berkembang seperti transformasi hijau, digitalisasi, dan kecerdasan buatan.

Seluruh dunia telah mengetahui bahwa selama kunjungannya di Chongqing dan Shanghai, Scholz mengunjungi perusahaan hidrogen yang didanai oleh Jerman dan pusat inovasi perusahaan Jerman. Hal ini menunjukkan kesediaan pihak Jerman untuk memperdalam kerja sama bilateral dalam industri yang sedang berkembang.

Selain itu, Tiongkok dan Jerman telah menandatangani deklarasi bersama untuk bekerja sama dalam hal mengemudi otonom dan terkoneksi, serta menandatangani beberapa perjanjian kerja sama bilateral lainnya, yang mengindikasikan bahwa kedua belah pihak mengubah keinginan kerja sama menjadi hasil yang lebih nyata.

Kerja sama Tiongkok-Jerman bermanfaat bagi kedua negara dan dunia pada umumnya. Semakin bergejolaknya dunia, semakin banyak kebutuhan kedua negara untuk membina ketahanan dan vitalitas dalam hubungan mereka.

Dengan saling mendukung kesuksesan satu sama lain, Tiongkok dan Jerman akan berkontribusi lebih banyak pada kerja sama Tiongkok-Uni Eropa dan secara efektif menghilangkan "kebisingan" yang merusak perdamaian dan pembangunan dunia.