Shanghai, Bharata Online - Shanghai semakin memperkuat perannya dalam kalender panjat tebing internasional dengan menjadi tuan rumah bagi berbagai ajang panjat tebing bergengsi.

Turnamen Belt and Road International Climbing Master, yang digelar bersamaan dengan seri Shanghai dari Liga Panjat Tebing Tiongkok (Chinese Climbing League), berlangsung dari hari Jumat (4/9) hingga Minggu (6/9) di Xujiahui Sports Park, Shanghai, dan menarik partisipasi hampir 200 atlet dari seluruh dunia.

Pada Sabtu (5/9) pagi, lomba estafet kecepatan (speed relay) diadakan di lokasi kompetisi taman tersebut, dengan setiap tim menurunkan dua pemanjat untuk berlaga di empat jalur yang tersedia. Para atlet berlari cepat menaiki rute setinggi 15 meter untuk menyentuh tombol penghenti waktu di puncak sebelum rekan setim mereka memulai giliran berikutnya secara berurutan dengan cepat.

Sesi kompetisi akhir pekan ini dijadwalkan berlangsung pada pagi, siang, dan malam hari, dengan babak pagi terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis.

"Menurut saya, ajang seperti ini memungkinkan lebih banyak orang menyaksikan kompetisi tingkat tinggi, membantu mereka lebih memahami panjat tebing, sekaligus memberikan akses bagi anak-anak yang berminat untuk mengenal olahraga ini," ujar seorang penonton.

Turnamen Belt and Road International Climbing Master mempertandingkan nomor speed putra dan putri, estafet kecepatan (speed relay), serta estafet kecepatan campuran (mixed speed relay). Tiongkok, selaku tuan rumah, menurunkan empat atlet putra dan empat atlet putri. Berlangsung pada periode yang sama, Liga Panjat Tebing Tiongkok berperan sebagai wadah untuk mengembangkan bakat-bakat baru dan meningkatkan kemampuan kompetitif para atlet.

Kedua ajang besar tersebut menjadi sarana pemanasan kompetitif yang penting menjelang Asian Games mendatang.

"Ini adalah kompetisi bagi saya untuk mempersiapkan diri menghadapi Asian Games. Jadi, ini sangat penting bagi saya," ujar Ezell Low Qing Wei, atlet panjat tebing dari Tim Singapura.

Pada nomor putra yang berlangsung Jumat (4/9) malam dalam ajang Belt and Road International Climbing Master Tournament, pemanjat asal Tiongkok, Ling Yongzhi, meraih medali emas dengan catatan waktu 4,69 detik. Pencapaian ini menempatkannya dalam kelompok elit spesialis nomor speed dunia yang berhasil menembus rekor waktu di bawah 4,70 detik.

Ryo Omasa dari Jepang meraih medali perak dengan waktu 4,80 detik, sementara Zhou Ziyu dari Tiongkok memenangkan medali perunggu.

Pada kompetisi putri, Elizaveta Ivanova, yang bertanding sebagai Atlet Netral Individu, berhasil menjadi juara, sedangkan Zhang Shaoqin dan Mou Yuju dari Tiongkok masing-masing meraih medali perak dan perunggu.

Sejak dipertandingkan di Olimpiade, olahraga yang dulunya dianggap sebagai cabang khusus (niche) ini telah mengalami lonjakan popularitas yang pesat di Shanghai. Saat ini, kota tersebut memiliki lebih dari 120 pusat latihan panjat tebing. Penyelenggaraan turnamen internasional bergengsi itu dipandang sebagai langkah krusial untuk semakin mempopulerkan olahraga tersebut di kota ini.