Makau, Bharata Online - Forum Internasional tentang Pembelajaran Bersama Antar Peradaban perdana resmi dibuka pada hari Selasa (16/12) di Daerah Administratif Khusus Makau, Tiongkok, dan menarik lebih dari 300 peserta.
Forum yang dijadwalkan pada hari Selasa (16/12) dan Rabu (17/12) ini mempertemukan perwakilan pemerintah dan organisasi internasional, serta para ahli terkemuka dari seluruh dunia untuk berdialog dan melakukan pertukaran akademis.
Dengan tema "Pembelajaran Bersama Antar Peradaban, Warisan, dan Pembangunan", konferensi ini menampilkan dua sub-forum paralel -- "Pembelajaran Timbal Balik Antar Peradaban dan Koeksistensi Beragam" dan "Konservasi dan Pembangunan Berkelanjutan Warisan Budaya" -- bersama dengan serangkaian salon akademis. Forum ini juga akan menampilkan hampir 20 pidato utama dan diskusi.
Pada forum tersebut, Sekretaris Urusan Sosial dan Kebudayaan pemerintah Daerah Administratif Khusus Makau, O Lam, menyoroti peran historis Makau sebagai jembatan antar peradaban.
"Inilah Makau, kuat dalam suasana yang lembut, berpegang teguh pada tradisi dalam mode, menjaga perdamaian, harmoni, kesopanan, dan integritas. Peradaban manusia tidak pernah maju tanpa pertukaran dan pembelajaran timbal balik. Sejarah Makau selama lima abad terakhir menjadi catatan hidup tentang koeksistensi harmonis dan perkembangan bersama peradaban Tiongkok dan Barat. Di sini, tidak ada benturan peradaban, hanya konvergensi budaya; tidak ada hierarki nilai, hanya dialog atas dasar kesetaraan. Makau, dengan sejarah integrasi peradaban Tiongkok dan Barat, menawarkan bukti praktis, dan akan terus membuktikan bahwa logika lama permainan zero-sum tidak berkelanjutan, sementara kerja sama dan harmoni mewakili arah sejati peradaban manusia," jelasnya.
Qian Chengdan, Profesor sejarah dari Universitas Peking, juga menggarisbawahi pentingnya keragaman peradaban.
"Keanekaragaman peradaban adalah salah satu atribut paling mendasar dan vital dari umat manusia. Sulit membayangkan dunia hanya dengan satu peradaban, satu suara. Jika hanya ada satu peradaban dan satu suara, pembelajaran timbal balik antar peradaban akan menjadi mustahil," ujarnya.