JAKARTA, Radio Bharata Online - Kapal angkatan laut Rusia, Iran, dan Tiongkok mengadakan latihan perang bersama di Laut Arab pekan ini, yang dilakukan dari Pelabuhan Chah Bahar di Teluk Oman. Latihan perang Sabuk Keamanan Maritim dijadwalkan berlangsung pada 12-15 Maret dan melibatkan kapal dan pesawat dari ketiga negara.
Hadir sebagai pengamat, utusan dari militer Azerbaijan, India, Kazakhstan, Oman, Pakistan, dan Afrika Selatan. Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin (11/3/2024) mengatakan, . “Bagian praktis dari latihan ini akan berlangsung di perairan Laut Arab, khususnya Teluk Oman,”
“Tujuan utama dari manuver ini adalah untuk menjamin keselamatan kegiatan ekonomi maritim.”
Sebanyak dua kapal Armada Pasifik, kapal penjelajah berpeluru kendali kelas Slava Varyag dan fregat kelas Udaloy Marsekal Shaposhnikov, menjadi kontingen Rusia dalam latihan tersebut.
Menurut Kementerian Pertahanan Tiongkok, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat telah mengirimkan kapal perusak berpeluru kendali Urumqi, kapal fregat berpeluru kendali Linyi, dan kapal pasokan Dongpinghu.
Sementara itu, Angkatan Laut Iran mengirimkan beberapa helikopter dan belasan kapal dengan berbagai ukuran. Maritime Security Belt dimulai pada 2019 sebagai aktivitas bersama Moskow, Beijing, dan Teheran. Tiongkok sendiri melewatkan latihan ini pada tahun 2021, tetapi sejak itu selalu berpartisipasi dalam setiap latihan.
Sekedar informasi, selama manuver tahun 2023, ketiga angkatan laut berlatih berlayar dalam formasi bersama, melakukan uji artileri siang dan malam, serta melakukan simulasi pembebasan sandera dari kapal yang direbut perompak dan membantu kapal yang dalam kesulitan. Area latihan tersebut berada di dekat pintu masuk Teluk Persia, tempat sebagian besar pengiriman minyak dunia berasal.
Di sisi lain Semenanjung Arab, di lepas pantai Yaman, AS dan sekutunya telah mengerahkan beberapa kapal perang dalam upaya menghentikan Houthi yang melarang perdagangan maritim terkait Israel. Bukan saja negara-negara Barat itu tidak berhasil, namun kelompok Houthi juga menambahkan kapal dagang Inggris dan Amerika ke dalam daftar target mereka.
[SINDOnews]