Fuqing, Radio Bharata Online - Dengan kerja sama nuklir yang telah terjalin selama beberapa dekade, Tiongkok dan Prancis memiliki potensi besar dalam memperdalam kemitraan di tengah transisi hijau global.
Di Kota Fuqing, Provinsi Fujian, Tiongkok timur, enam unit pembangkit listrik tenaga nuklir menghasilkan 50 miliar kilowatt-jam listrik per tahun.
Dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Kepala Operator Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fuqing, Shang Yubai, memperkenalkan evolusi teknologi nuklir di Tiongkok, dengan menyebutkan peran pihak Prancis.
"Keempat unit ini adalah unit M310, teknologi yang awalnya diimpor dari Prancis. Keempat unit ini secara bertahap mulai beroperasi secara komersial antara tahun 2014 dan 2017. Dua unit di sana, yang terlihat sangat berbeda, menggunakan teknologi Hualong One yang dikembangkan secara mandiri oleh Tiongkok," kata Shang.
Berbicara dengan CGTN, Luo Qingping, Ketua China Institute of Nuclear Industry Strategy (CINIS), mengatakan bahwa kedua negara, yang telah bekerja sama erat dalam hal tenaga nuklir, keduanya merupakan pemimpin global dalam hal teknologi.
"Tiongkok dan Prancis memiliki sejarah kerja sama nuklir selama 40 tahun. Prancis dan Tiongkok menempati peringkat kedua dan ketiga secara global dalam hal kapasitas tenaga nuklir yang beroperasi. Tiongkok juga memiliki kapasitas terpasang terbesar di dunia untuk tenaga nuklir yang sedang dibangun. Keduanya adalah kekuatan nuklir utama," katanya.
Tiongkok dan Perancis memiliki pandangan positif terhadap tenaga nuklir karena tenaga nuklir menghasilkan energi yang sangat besar dengan jejak karbon yang minimal.
"Baik Tiongkok dan Perancis telah menetapkan tujuan netralitas karbon. Tiongkok menargetkan tahun 2060, sementara Prancis menargetkan tahun 2050. Pada KTT Energi Nuklir Global 2024, lebih banyak negara mengakui energi nuklir sebagai pilihan praktis untuk mitigasi perubahan iklim dan pasokan listrik yang stabil," kata Luo.
Setelah kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Tiongkok tahun lalu, kedua negara mulai bersama-sama menyusun sebuah studi berwawasan ke depan tentang energi nuklir dan pembangunan rendah karbon.
Luo mengatakan bahwa buku biru ini membagikan pengalaman kedua negara yang kaya dalam pengembangan energi nuklir, yang berfungsi sebagai referensi bagi negara-negara lain dan memajukan transisi global menuju energi bersih dan rendah karbon.