Jakarta, Bharata Online - Pusat Alih Bahasa Film dan Televisi China Media Group (CMG) menggelar Acara Penayangan Film China Media Group pada Rabu (26/11) di Jakarta. Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Siping, dan sutradara film 'Hotline Beijing', Xu Jieqin, menyampaikan sambutan melalui video di acara tersebut.
Dari pihak Indonesia, yang turut hadir dan memberikan sambutan adalah Nouvarah Ahdiba selaku Ketua Tim Pemberitaan Siaran Luar Negeri dan Redaksi Radio Republik Indonesia (RRI), Sony Soemarsono selaku Direktur Operasional JAKTV, Ihsan Chairdiansyah selaku Sekretaris Perusahaan Produksi Film Negara (PFN) serta Rachmat Soekasah selaku Penasihat Khusus Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok.
Acara ini menayangkan dua film unggulan, yakni 'Jendela Antariksa – Shenzhou 13', film dokumenter luar angkasa 8K ultra-HD pertama Tiongkok yang diproduksi oleh CMG, serta 'Hotline Beijing', film dokumenter dari Studio Film Dokumenter Berita Pusat. Dua film ini menampilkan keindahan misterius luar angkasa dan juga suasana kehidupan kota Beijing. Film yang mengangkat nilai kebersamaan dan nasib bersama umat manusia itu mendapatkan sambutan yang hangat dan meriah dari para penonton.
Lewat video sambutan, Wang Siping mengajak masyarakat Indonesia untuk menyaksikan film 'Hotline Beijing' dan berdialog tentang masa depan pembangunan perkotaan yang lebih baik. "Kami berharap film ini dapat menjadi jendela untuk saling belajar dan bertukar pengalaman, serta menulis lebih banyak kisah tentang tata kelola kota yang berorientasi pada manusia," ujarnya.
Dalam sambutannya, Nouvarah Ahdiba selaku Ketua Tim Pemberitaan Siaran Luar Negeri dan Redaksi Radio Republik Indonesia (RRI) menyampaikan, "RRI percaya bahwa media memiliki peran penting sebagai penghubung antarbangsa. Kerja sama antara RRI dan CMG adalah salah satu wujud nyata dari peran tersebut."
Adapun Xu Jieqin, melalui video sambutannya mengatakan bahwa ia berharap melalui 'Hotline Beijing', penonton secara global bisa melihat bagaimana Beijing mencari cara baru untuk menyelesaikan masalah perkotaan dan mendengarkan aspirasi warganya. Ia juga menambahkan, "Pemutaran film di Indonesia ini sangat berarti bagi kami. Kekuatan gambar nyata benar-benar dapat melampaui batas waktu, ruang dan budaya."
Kepala Sekretaris PFN, Ihsan Chairdiansyah menyampaikan “PFN memandang inisiatif ini sebagai langkah yang baik untuk memperluas interaksi budaya dan kreativitas antara Indonesia dan Tiongkok, serta membuka ruang dialog baru dalam industri perfilman.”
Xu Yang selaku Wakil Direktur Departemen Konvergensi Media, Pusat Alih Bahasa Film dan Televisi CMG mengungkapkan bahwa, 'Shenzhou 13' merupakan film luar angkasa Tiongkok pertama yang diproduksi dalam format 8K ultra-HD oleh China Media Group. "Semoga cahaya dari “Shenzhou 13” dapat menerangi babak baru dalam persahabatan dan kerja sama Tiongkok–Indonesia. Dan kami sangat mengundang Anda untuk datang ke Tiongkok, melihat dan merasakan negeri kami secara langsung," ujarnya.
Sony Soemarsono, Direktur Operasional JAKTV mengungkapkan bahwa Peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran kedua negara, melanjutkan ikatan historis dan budaya yang sudah terjalin selama berabad-abad.
Beberapa tahun terakhir, karya film dan televisi telah menjadi jembatan penting dalam pertukaran budaya Tiongkok–Indonesia, membuka jendela bagi masyarakat Indonesia untuk lebih memahami Tiongkok. Lebih dari 50 program CMG yang sudah diadaptasi ke bahasa Indonesia - seperti Penjaga Warisan Budaya, Pertemuan dengan Xi Jinping, Jejak Naga Tiongkok, Mencari Giok Kuno, Feather Flies to the Sky, dan Home Between Mountains and Rivers - telah ditayangkan di berbagai platforms media di Indonesia. Pada awal tahun ini, edisi khusus CNY Gala juga diputar di bioskop Indonesia untuk pertama kalinya dan mendapat sambutan yang hangat dan meriah.
Tahun ini menandai 75 tahun hubungan diplomatik Tiongkok–Indonesia. Rangkaian Program Film & TV Premium CMG 2025 resmi tayang di berbagai platforms media Indonesia seperti TVRI, RRI, Vidio.com dan JAKTV. Acara pemutaran film premium itu memudahkan penonton Indonesia untuk mengakses konten Tiongkok. Hal tersebut juga membangun fondasi yang lebih kokoh bagi persahabatan publik dan membuka babak baru dalam kerja sama media Tiongkok–Indonesia.