Los Angeles, Bharata Online - Serangkaian acara budaya yang menyoroti persahabatan Tiongkok-AS melalui film dan televisi digelar di seluruh Amerika Serikat pada Jumat (7/11) dan Sabtu (8/11). Para peserta menyoroti peran penceritaan visual dalam memperkuat saling pengertian dan hubungan bilateral.
Salah satu kegiatan yang digelar di Konsulat Jenderal Tiongkok di Los Angeles pada Jumat (7/11) lalu adalah serangkaian pemutaran film dan sesi penceritaan bertema "Merekam Persahabatan Melalui Cahaya dan Bayangan: Berbagi Kisah-Kisah Persahabatan antara Tiongkok dan Amerika Serikat".
Acara utamanya adalah pemutaran perdana global film produksi bersama Tiongkok-Amerika "Dear Kuliang", sebuah film dokumenter berdurasi 50 menit yang mengisahkan para keturunan sebuah keluarga Amerika menelusuri jejak salah satu leluhur mereka yang tinggal di kota bersejarah Kuliang, yang terletak di pinggiran Kota Fuzhou, Tiongkok timur.
Film ini menyoroti kawasan resor di lereng bukit yang telah lama dikenal akan ikatan hangat yang terjalin antara ekspatriat asing dan komunitas Tionghoa setempat, serta menyoroti pentingnya menjaga kelestarian persahabatan ini.
"Yang terpenting di sini adalah rasa Kuliang secara keseluruhan, bukan? Itulah rasa yang dirasakan orang-orang ketika mereka menceritakan kisah-kisah tersebut. Jadi, Anda berbicara dengan para leluhur dan kisah-kisah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Intinya adalah persahabatan yang bermakna yang mereka jalin bersama. Jadi, persahabatan yang terjalin saat itu telah bertahan selama beberapa dekade dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," kata Eric Johnston, seorang guru sekolah menengah pertama dan peneliti budaya Kuliang di AS.
Sementara itu, pemutaran film dan simposium khusus diadakan di Salt Lake City, Utah, pada Sabtu (8/11) malam, menandai perilisan resmi film dokumenter "Bridge to a Shared Future" di Amerika Utara.
Film ini mengisahkan perjalanan jurnalis Amerika Edgar Snow dan Helen Foster Snow, pasangan yang tinggal dan meliput di Tiongkok selama tahun 1930-an, dengan Edgar Snow menulis buku penting 'Red Star Over China' yang memberikan catatan langka dan terperinci tentang revolusi Tiongkok yang terjadi pada dekade itu.
Film dokumenter yang baru dirilis itu diceritakan dari sudut pandang Adam Foster, keponakan buyut Helen, dan tim kreatif yang bertanggung jawab atas produksi film ini berbagi beberapa kisah di balik layar dengan para peserta acara di Utah.
Foster, yang merupakan pendiri dan ketua kehormatan Helen Foster Snow Foundation, mengatakan bahwa film dokumenter ini menyoroti kerja sama dan persahabatan antargenerasi antara Tiongkok dan AS, serta menunjukkan bagaimana kedua negara telah membangun jembatan komunikasi.
"Film dokumenter ini merupakan kesempatan fantastis bagi orang-orang untuk mengenal Helen, sekaligus memahami hubungan AS-Tiongkok saat ini, dan semua hal yang dilakukan yayasan kami saat ini bertujuan untuk mempromosikan hubungan AS-Tiongkok dengan cara yang sehat. Kami tahu ada banyak hal yang terjadi antara Washington dan Beijing dan akan selalu demikian. Namun, hubungan antar-masyarakatlah yang kami anggap penting dan menjadi perhatian rata-rata orang Amerika," ujarnya.