Jakarta, Bharata Online - Dua akademisi dari Indonesia mengkritik pernyataan keliru Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, baru-baru ini mengenai masalah Taiwan. Mereka memperingatkan bahwa pernyataan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan di tengah kondisi geopolitik yang sedang tidak baik-baik saja, dan berdampak pada sektor pariwisata Jepang.

Takaichi baru-baru ini mengatakan bahwa "penggunaan kekuatan oleh Tiongkok daratan terhadap Taiwan" dapat menimbulkan "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang dan menyiratkan kemungkinan intervensi bersenjata di Selat Taiwan. Meskipun Tiongkok telah berkali-kali mengajukan keberatan, pihak Jepang menolak untuk menarik kembali pernyataannya.

Menurut Dr. Phil. Shiskha Prabawaningtyas, Pakar Hubungan Internasional Universitas Paramadina, pernyataan Takaichi sangat disayangkan karena dilontarkan ketika kondisi dunia internasional sedang bergejolak. Ia pun menilai bahwa Perdana Menteri Jepang itu tidak menghormati kesepakatan bersama pascperang untuk saling menghormati antar negara tetangga.

Selain itu, Shiska turut menyoroti peningkatan anggaran militer Jepang di bawah pemerintahan Takaichi. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memunculkan trauma perang bagi negara-negara lain, terutama Tiongkok yang pernah merasakan kekejaman rezim militerisme Jepang.

"Tapi tentu traumatik perang, bahwa Jepang dulu punya kapasitas luar biasa untuk mengalahkan Amerika di Pearl Harbour, kemudian mengalahkan Belanda dan Inggris di Pasifik, itu menunjukkan kapasitas militer Jepang pernah punya kemampuan seperti itu. Jadi tentu traumatik itu wajar," ujarnya kepada tim Bharata Online pada Sabtu (6/12) di Jakarta.

Di sisi lain, Pakar Ekonomi Politik dan Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Tatok Djoko Sudiarto, MIB, menyatakan bahwa pernyataan Takaichi akan semakin menurunkan volume wisatawan Tiongkok ke Jepang. Padahal, lantaran banyaknya budaya Tiongkok yang diadopsi oleh Jepang ketika menjajah, wisatawan Tiongkok merasa nyaman dengan apa yang ada di negeri sakura tersebut.

"Karena merupakan akulturasi budayanya. Dengan begitu, level atau pun jumlah wisatawan Tiongkok ke Jepang itu nomer satu. Tinggi (jumlahnya)," katanya.

"Kalau misalnya pariwisata itu terguncang oleh konflik politik, pasti turun. Karena orang wisata itu kepingin relaks, kepingin enjoy, pada saat itu tidak nyaman buat dia, tidak secure buat dia, maka dia pull up," imbuhnya.