BEIJING, Radio Bharata Online – Tiongkok telah berhasil mewujudkan prestasi berimbang antara pembangunan sosial ekonomi dan perlindungan lingkungan, dalam aksinya untuk meningkatkan pengendalian polusi udara sejak 2013.
Li Haisheng, presiden Akademi Ilmu Lingkungan Tiongkok dalam pertemuan tahunan para kepala lembaga ilmu lingkungan nasional dari Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan, Kamis 24/11 mengatakan, sejak 2013, ketika Tiongkok meluncurkan kampanye nasional untuk meningkatkan pengendalian polusi udara, wilayah di seluruh negeri semuanya mengalami peningkatan kualitas udara yang luar biasa.
Sudah 74 kota besar yang mulai memantau PM2.5 (yakni materi partikulat dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang), mengalami penurunan kepadatan polutan sampai sebesar 56 persen dalam 10 tahun terakhir.
Peningkatan yang signifikan terjadi, karena PDB negara mempertahankan pertumbuhan yang konsisten dan cepat.
Dia menambahkan, ini adalah hasil dari upaya negara untuk mempercepat transisi hijau.
Upaya besar misalnya telah dilakukan di Tiongkok untuk mengoptimalkan struktur industri. Sejak 2013, Tiongkok telah menghapus kapasitas produksi di industri baja sebesar 300 juta metrik ton, dan di industri semen sebesar 400 juta ton.
Negara ini telah secara komprehensif memperkenalkan standar emisi ekstra rendah di semua industri utama, dan telah membangun sistem pasokan listrik tenaga batu bara bersih terbesar di dunia.
Dia mengatakan, dua pertiga dari peningkatan konsumsi energi negara dalam 10 tahun terakhir, telah terpenuhi oleh energi terbarukan.
Li juga menyoroti kontribusi signifikan dari penelitian ilmiah terhadap peningkatan kualitas udara, terutama penelitian yang dilakukan di bawah bendera National Joint Research Center for Tackling Key Problems in Air Pollution Control, yang diluncurkan pada 2017.
Sekitar 2.900 peneliti dari 295 lembaga penelitian di seluruh negeri, telah berpartisipasi dalam pekerjaan pusat tersebut, yang bertujuan untuk memberantas polusi udara berat, di kluster provinsi Beijing-Tianjin-Hebei.
Pekerjaan tersebut telah membantu mengendalikan polutan utama PM2.5 di musim dingin, dan ozon di musim panas.
Tim juga telah menyusun daftar yang rinci dari sumber emisi, dan solusi yang disesuaikan untuk mengatasi polusi udara di 28 kota besar yang berbeda.
Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 di wilayah tersebut telah menurun lebih dari 30 persen dari 2018 hingga 2020. Upaya ini secara bersamaan membantu mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 200 juta ton. (China Daily)