New York, Bharata Online - Tiongkok menyatakan penyesalannya setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal mengadopsi resolusi tentang Timur Tengah yang diajukan oleh Rusia untuk segera menghentikan aktivitas militer di kawasan tersebut, kata Perwakilan Tetap Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, pada hari Rabu (11/3) di New York.
Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu (11/3) gagal mengadopsi rancangan resolusi yang mendesak semua pihak untuk segera menghentikan aktivitas militer mereka dan menahan diri dari eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah dan sekitarnya serta mengutuk semua serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil.
Dewan menolak rancangan resolusi yang disponsori oleh Rusia, dengan empat suara mendukung, dua menentang, dan sembilan abstain. Rusia, Tiongkok, Pakistan, dan Somalia memilih mendukung rancangan resolusi tersebut, sementara Amerika Serikat dan Latvia memilih menentangnya.
Dalam penjelasan suara, Fu mengatakan bahwa rancangan resolusi yang diajukan oleh Rusia menegaskan kembali tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB.
Ia mengatakan, resolusi tersebut mendesak semua pihak untuk segera menghentikan aktivitas militer, mengutuk semua serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, dan mendorong semua pihak terkait untuk kembali ke jalur negosiasi diplomatik.
Isi rancangan resolusi tersebut berprinsip dan seimbang, yang disambut dan didukung oleh Tiongkok, kata Fu, seraya menambahkan bahwa Tiongkok kecewa dan menyesalkan rancangan tersebut tidak diadopsi.
"Ini adalah perang yang seharusnya tidak terjadi, dan juga perang yang tidak menguntungkan siapa pun. Sejarah Timur Tengah berulang kali menunjukkan kepada dunia bahwa kekerasan tidak memberikan solusi dan konflik bersenjata hanya akan meningkatkan kebencian dan menimbulkan krisis baru. Prioritas utama adalah segera menghentikan operasi militer, mencegah eskalasi dan penyebaran permusuhan, dan kembali ke dialog dan negosiasi sesegera mungkin. Tiongkok akan terus berupaya untuk mewujudkan perdamaian," jelas Fu.
Rancangan resolusi yang diusulkan Rusia sangat netral, mengingat beratnya situasi saat ini, kata Vassily Nebenzia, Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, pada konferensi pers hari Rabu (11/3).
Menurutnya, Rusia hanya menyerukan penyelesaian krisis secepatnya dan kembali ke jalur penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik.
Krisis yang terjadi saat ini di Timur Tengah dipicu oleh serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 dan pembalasan Iran selanjutnya di seluruh wilayah tersebut.