Henan, Radio Bharata Online - Pertanian cerdas telah membantu Provinsi Henan di Tiongkok tengah, penghasil biji-bijian utama di negara tersebut, untuk bertahan dari ancaman yang ditimbulkan oleh kondisi cuaca yang buruk.

Qiu Shouxian, Manajer Koperasi Fengwei, mengelola lahan pertanian seluas 1,4 kilometer persegi di Kabupaten Shangshui. Dia mengatakan bahwa lahan pertaniannya tidak terpengaruh oleh cuaca ekstrem.

Pertanian pintar telah diterapkan di semua lahannya. Hanya dengan menekan satu tombol di perangkat selulernya, pompa air dan pintu air di kanal-kanal pertaniannya akan aktif untuk mengairi tanaman. Hal ini dimungkinkan oleh sistem irigasi pintar yang memungkinkan kontrol dan pemantauan jarak jauh.

Qiu juga dapat mengoperasikan irigasi dan menyemprotkan pupuk dari jarak jauh dari ruang kontrol, sambil mengumpulkan informasi tentang cuaca, kelembapan tanah, hama, dan pertumbuhan bibit.

"Dulu petani bergantung pada kondisi cuaca. Sekarang saya merasa lebih stabil dan aman secara finansial. Saya bisa memiliki pendapatan yang konsisten," kata Qiu.

"Pertanian pintar dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya tenaga kerja. Selain itu juga dapat memantau cuaca dan kondisi pertumbuhan tanamannya," ujar Wang Peipei, perencana produk Henan Tengyue Technology Co, Ltd.

Sebuah drone yang dilengkapi dengan sensor untuk perlindungan tanaman diterbangkan di atas lahan pertanian Qiu. Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan data secara efisien tentang parameter seperti luas daun dan kelembaban tanah, sekaligus mengidentifikasi kondisi pertumbuhan tanaman secara akurat.

Selanjutnya, Universitas Pertanian Henan mengeluarkan laporan yang berisi resep pemupukan yang disesuaikan untuk setiap unit tanaman.

"Cuaca adalah hal yang paling penting untuk pertanian. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian digunakan untuk meramalkan dan mengelola berbagai kondisi cuaca," kata Xiong Shuping, Profesor dari Henan Agriculture University.

Provinsi Henan Tengah adalah produsen utama biji-bijian di Tiongkok. Pada akhir Mei lalu, beberapa daerah di provinsi ini mengalami curah hujan yang tinggi selama periode panen musim panas.

Tapi, karena metode panen yang efisien dan teknologi pertanian yang canggih, provinsi ini masih dapat mencapai panen raya.