Tiongkok, Bharata Online - Menurut data terbaru dari Asosiasi Produsen Otomotif Tiongkok (China Association of Automobile Manufacturers/CAAM), kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) menyumbang 56,9 persen dari total penjualan mobil baru di Tiongkok pada bulan Mei 2026, mengalami peningkatan dibandingkan dengan 50,8 persen pada tahun 2025 dan 40,9 persen pada tahun 2024.

Dengan hampir 1,5 juta unit terjual bulan lalu, pasar NEV di negara itu tumbuh dengan kecepatan yang terus melampaui ekspektasi global.

Chen Shihua, Wakil Sekretaris Jenderal CAAM, menghubungkan momentum tersebut dengan kombinasi penurunan biaya, peningkatan teknologi yang cepat, dan perubahan mendasar dalam preferensi konsumen. Bahkan ketika penjualan mobil bensin tradisional melambat, NEV telah menciptakan lintasan pertumbuhan independen.

Bagi pembeli Tiongkok, daya tarik NEV jauh melampaui penghematan biaya. Medan pertempuran telah bergeser ke kabin yang ditentukan perangkat lunak. Model AI domestik semakin banyak diintegrasikan ke dalam kendaraan, mengubah pengalaman berkendara dari tugas mekanis menjadi sesuatu yang sangat intuitif.

Beberapa model kini menggunakan sensor dan pengenalan wajah untuk mendeteksi suasana hati pengemudi, secara otomatis menyesuaikan pencahayaan sekitar, musik, dan bahkan aroma kabin. Seperti yang dicatat oleh seorang manajer dealer di Chongqing, konsumen tidak lagi terobsesi dengan tenaga kuda; mereka memprioritaskan fitur pintar dan pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Dorongan teknologi canggih ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga yang dramatis. Seiring stabilnya biaya material baterai dan teknik manufaktur canggih, seperti pengecoran terintegrasi, menjadi standar, produsen mobil meneruskan penghematan tersebut langsung kepada konsumen.

Merek seperti BYD dan Leapmotor kini menawarkan kendaraan dengan sistem bantuan pengemudi canggih dengan harga di bawah 100.000 yuan (sekitar 263,5 juta rupiah), dengan beberapa NEV kelas bawah dihargai sekitar 80.000 yuan (sekitar 210,8 juta rupiah).

Infrastruktur pengisian daya, yang sejak lama disebut sebagai potensi hambatan, juga mengikuti perkembangan permintaan. Menurut Administrasi Energi Nasional, Tiongkok telah mengerahkan hampir 22 juta fasilitas pengisian daya di seluruh negeri hingga April 2026.

Jaringan tersebut kini membentang dari pusat kota hingga daerah pedesaan terpencil, menjadikan janji pengisian daya yang semudah mengisi bahan bakar sebagai kenyataan nyata bagi jutaan pengemudi. Insentif pemerintah, termasuk subsidi tukar tambah, semakin mendorong momentum tersebut.