BEIJING, Bharata Online - Tiongkok meningkatkan upaya untuk membawa robot humanoid dari sekadar demonstrasi yang menarik perhatian ke tempat kerja, seiring dengan upaya para pembuat kebijakan untuk mempercepat komersialisasi AI yang terwujud dalam bentuk fisik.

Rencana aksi nasional yang diluncurkan pada 9 Juni oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi serta Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara bertujuan untuk menerapkan robot humanoid dan teknologi terkait secara rutin di berbagai skenario dunia nyata pada akhir tahun ini.

Inisiatif ini mendukung penyebaran sekitar 10.000 robot humanoid di lebih dari 100 skenario bernilai tinggi, menandai salah satu upaya paling ambisius Tiongkok hingga saat ini untuk membawa teknologi ini ke dalam penggunaan praktis.

"Dengan penerapan skenario aplikasi ini, kita akan mengumpulkan lebih banyak data, dan data tersebut akan membantu melatih robot yang lebih mumpuni dan lebih umum di masa depan," kata Wang Zhongyuan, presiden Akademi Kecerdasan Buatan Beijing, kepada CGTN.

Menurut Wang, salah satu tantangan terbesar industri ini adalah meningkatkan kemampuan robot untuk beroperasi secara andal di lingkungan yang kompleks.

"Kendala utama masih terletak pada generalisasi, akurasi pelaksanaan tugas, daya tahan baterai, dan keselamatan operasional," katanya.

Beberapa robot humanoid telah mulai bekerja di lingkungan terkontrol seperti hotel dan pabrik. Menurut Kantor Berita Xinhua, Tiongkok mengirimkan sekitar 17.000 robot humanoid pada tahun 2025, yang diproduksi oleh lebih dari 140 perusahaan di seluruh negeri.

Namun, para ahli industri mengatakan bahwa penerapan skala besar akan membutuhkan lebih dari sekadar kemajuan dalam perangkat keras. Robot harus belajar untuk memahami dan berinteraksi dengan dunia fisik — merasakan lingkungan sekitarnya, membuat keputusan secara mandiri, dan beradaptasi dengan tugas-tugas baru di lingkungan yang dinamis.

Tantangan-tantangan ini semakin sering digambarkan dalam industri sebagai pembangunan "model dunia fisik."

"Untuk membantu robot lebih memahami dan berinteraksi dengan dunia nyata, data dan lingkungan pelatihan perlu lebih dinamis daripada sekadar statis," kata Sui Yanan, seorang profesor madya di Universitas Tsinghua, kepada CGTN.

Berbeda dengan model bahasa besar yang dilatih terutama menggunakan data teks berbasis internet, robot humanoid harus belajar dari lingkungan dunia nyata yang terus berubah, di mana manusia, objek, dan kondisi selalu bergerak.

Meskipun enam bulan adalah jangka waktu yang relatif singkat, para ahli mengatakan inisiatif ini dapat mempercepat perkembangan industri dengan mendorong perusahaan untuk menguji teknologi dalam lingkungan dunia nyata, mengumpulkan data berharga, dan lebih cepat mencapai solusi teknik yang layak. [CGTN]