Beijing, Bharata Online - Menurut seorang akademisi Tiongkok, negara-negara Global South dapat memperkuat kemampuan teknologi mereka dan membuka peluang kerja sama baru dengan memanfaatkan dorongan Tiongkok terhadap pembangunan berbasis inovasi dalam kerangka kerja BRICS.

Pada hari Sabtu (12/9) lalu, Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengajak negara-negara BRICS untuk menjadi "pelopor" di empat bidang, yaitu pembangunan berbasis inovasi, perdamaian dan stabilitas, saling belajar antarperadaban, serta reformasi tata kelola global. Ia juga mengusulkan lima inisiatif untuk memajukan kerja sama di antara anggota BRICS yang telah diperluas, termasuk kolaborasi yang lebih mendalam dalam kecerdasan buatan (AI), perdagangan dan investasi, industri digital, manufaktur cerdas, dan pengembangan talenta.

Dalam wawancara dengan China Global Television pada hari Senin (14/9), Qu Qiang, Peneliti di Belt and Road Research Center di Minzu University of China, mengatakan bahwa keempat bidang yang diusulkan tersebut dapat menjadi kerangka kerja bagi negara-negara Global South untuk memperkuat kerja sama dan meningkatkan suara kolektif mereka dalam urusan global.

"Menurut saya, ini adalah pandangan yang sangat komprehensif. Saya rasa beliau sebenarnya menyarankan agar negara-negara Global South menjadi kekuatan pelopor di keempat bidang tersebut. Hal ini sangat penting karena mencakup inovasi, perdamaian dan stabilitas, serta saling menghormati peradaban dan tata kelola internasional. Saya juga berpendapat bahwa keempat bidang atau lini ini sebenarnya saling mendukung. Menurut saya, negara-negara Global South perlu bekerja sama dan menyampaikan pesan dengan satu suara agar kita dapat mengajukan argumen kuat bahwa negara-negara Global South juga mampu mewakili peradaban yang tangguh. Kita sebenarnya bisa mewujudkannya secara mandiri," ujarnya.

Usulan Xi juga mengindikasikan adanya kesiapan yang lebih luas di kalangan komunitas Global South untuk membawa kerja sama melampaui perdagangan tradisional komoditas dan infrastruktur.

Qu mengatakan, penekanan yang lebih besar pada digitalisasi, e-commerce, dan teknologi baru dapat membantu perekonomian negara-negara BRICS meningkatkan struktur industri mereka serta memperluas akses terhadap pengembangan teknologi.

"Bersama-sama, negara-negara Global South, meskipun telah mencapai berbagai terobosan besar dan inovatif, masih memiliki banyak kekurangan dalam menghadapi masa depan yang berorientasi pada teknologi. Sebagaimana disampaikan oleh Presiden Xi Jinping, kita perlu meningkatkan kualitas perdagangan dan investasi kita. Sebelumnya, pola perdagangan dan investasi kita, terutama di sektor infrastruktur, masih tergolong sederhana, seperti yang tadi disebutkan terkait komoditas bahan mentah. Hal itu memang merupakan langkah awal yang baik, namun pada akhirnya kita harus membawa semuanya ke tingkat yang lebih tinggi, mencakup digitalisasi, e-commerce, kecerdasan buatan (AI), energi hijau, hingga teknologi token—berbagai hal yang diperlukan untuk meningkatkan taraf seluruh perekonomian kita," jelasnya.