Beijing, Bharata Online - Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok, Jiang Bin, memperingatkan Jepang bahwa jika Jepang berani melewati batas dan mengundang masalah bagi dirinya sendiri dengan mengintervensi masalah Taiwan, Jepang akan menanggung akibatnya.

Jiang mengeluarkan peringatan tersebut dalam konferensi pers pada hari Kamis (27/11) di Beijing, setelah ia diminta untuk mengomentari perkembangan rencana Jepang untuk menempatkan rudal darat-ke-udara jarak menengah di Pulau Yonaguni, sekitar 110 kilometer di sebelah timur wilayah Taiwan, Tiongkok.

"Persoalan Taiwan sepenuhnya merupakan urusan internal Tiongkok. Bagaimana menyelesaikan persoalan Taiwan adalah urusan rakyat Tiongkok sendiri, dan tidak ada hubungannya dengan Jepang. Tahun ini menandai peringatan 80 tahun pemulihan Taiwan ke Tiongkok. Alih-alih menyesali kejahatan perangnya karena menginvasi dan menjajah Taiwan, Jepang justru mengambil pendekatan yang sangat keliru dengan mengusulkan intervensi militer ke dalam apa yang disebut sebagai kontingensi Taiwan," ujar Jiang.

Respons Jubir itu merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang terang-terangan dan provokatif tentang Taiwan pada 7 November 2025. Di sana, Takaichi mengklaim bahwa kontingensi Taiwan dapat menjadi "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang, dan menyiratkan bahwa Jepang mungkin akan menggunakan apa yang disebut "hak untuk membela diri kolektif" untuk intervensi bersenjata di Selat Taiwan.

"Pendekatan berbahaya ini akan menumbangkan tatanan internasional pasca-Perang Dunia II, dan membuat Jepang mengulangi kesalahan masa lalu militeristiknya. Tentara Pembebasan Rakyat memiliki kemampuan yang kuat dan sarana yang andal untuk mengalahkan agresor mana pun. Jika pihak Jepang berani melewati batas dan mengundang masalah bagi dirinya sendiri, mereka ditakdirkan untuk membayar harga yang mahal," tegas Jiang.