Spanyol, Bharata Online - Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengenai wilayah Taiwan di Tiongkok merupakan kesalahan serius dan akan sangat merusak stabilitas regional, menurut pengamat internasional.

Takaichi baru-baru ini mengatakan bahwa "penggunaan kekuatan oleh Tiongkok daratan terhadap Taiwan" dapat menimbulkan "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang. Ia menolak untuk menarik kembali pernyataannya yang menyiratkan kemungkinan intervensi bersenjata Jepang di Selat Taiwan.

Marta Montoro, Wakil Presiden dan Direktur Jenderal Catedra China Foundation di Spanyol, mendesak pihak Jepang untuk memperbaiki kesalahannya dan mempromosikan koeksistensi damai serta saling pengertian antarnegara.

"Perdana Menteri Jepang seharusnya lebih bijaksana dalam pernyataannya. Ini adalah kesalahan serius, dan saya berharap Jepang akan memperbaikinya sesegera mungkin. Yang paling dibutuhkan dunia saat ini adalah bergerak menuju koeksistensi damai. Di bawah konsep mempromosikan multilateralisme yang dianut Tiongkok, semua negara dapat saling memahami, bertukar, dan berbagi pengetahuan dalam sebuah komunitas dengan masa depan bersama. Ini sangat penting, dan saya yakin rakyat Jepang memiliki harapan yang sama," ujar Montoro kepada China Central Television (CCTV).

Penulis dan jurnalis Afrika Selatan, Ismail Lagardien, memperingatkan bahwa militerisasi dan retorika Jepang mengancam stabilitas regional.

"Pernyataan Jepang itu agak berbahaya, kalau boleh saya katakan. Hal itu tercermin dalam kembalinya Jepang ke militerisasi. Kita harus ingat bahwa Jepang adalah masyarakat yang sangat termiliterisasi selama Perang Dunia Kedua. Dan Tiongkok ingat invasi itu, invasi Jepang ke Tiongkok. Orang-orang Asia Tenggara ingat itu. Jadi mereka mencoba memprovokasi sentimen nasionalis di dalam negeri melalui Perdana Menteri Takaichi, jadi kita perlu khawatir tentang itu," kata Lagardien.