Bharata Online - Perkembangan industri esports Tiongkok sepanjang 2025 bukan sekadar cerita tentang hiburan digital, melainkan cerminan transformasi kekuatan struktural Tiongkok dalam ekonomi politik global, budaya populer, dan soft power internasional yang semakin matang dan sistemik. Data yang disajikan dalam laporan CGTN dan Laporan Industri Esports China 2025 menunjukkan bahwa esports di Tiongkok telah melampaui fase eksperimental dan kini menjadi industri mapan dengan basis massa raksasa, ekosistem terintegrasi, serta pengaruh global yang nyata. Dalam konteks hubungan internasional kontemporer, fenomena ini memperlihatkan bagaimana Tiongkok secara konsisten membangun keunggulan non-militer dan non-finansial yang justru sulit ditandingi oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Lonjakan jumlah penonton langsung Grand Final King Pro League di Stadion Nasional Beijing yang mencapai lebih dari 62 ribu orang, dengan tiket habis terjual hanya dalam 12 detik, bukan hanya rekor teknis, tetapi simbol legitimasi sosial esports sebagai budaya arus utama di Tiongkok. Tidak ada negara Barat yang mampu menghadirkan skala legitimasi negara, infrastruktur nasional, dan mobilisasi massa digital-fisik sebesar ini untuk esports. Amerika Serikat, meskipun memiliki industri game besar, masih terfragmentasi antara korporasi, liga, dan kepentingan pasar semata, tanpa integrasi strategis dengan visi negara. Tiongkok justru menunjukkan model yang berbeda: esports diposisikan sebagai bagian dari industri kreatif nasional, ekonomi digital, dan diplomasi budaya.
Dalam perspektif ekonomi politik internasional, pendapatan industri esports Tiongkok yang mencapai 29,3 miliar yuan pada 2025 dengan pertumbuhan tahunan 6,4 persen memperlihatkan stabilitas dan ketahanan pasar domestik. Basis pengguna yang meningkat dari 488 juta menjadi 495 juta dalam lima tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan ini bukan spekulatif, melainkan berbasis konsumsi riil masyarakat. Ini kontras dengan Barat yang sering mengalami siklus boom and bust dalam industri hiburan digital akibat dominasi logika pasar jangka pendek dan ketergantungan pada hype. Model Tiongkok memperlihatkan karakter developmental state versi digital, di mana negara, industri, dan komunitas bergerak dalam satu ekosistem yang saling memperkuat.
Dari sudut pandang teori soft power ala Joseph Nye, esports Tiongkok telah menjadi instrumen daya tarik yang jauh lebih efektif dibandingkan propaganda politik konvensional Barat. Game seperti Honor of Kings dan Mobile Legends: Bang Bang berfungsi sebagai medium pertukaran budaya yang organik, menjangkau generasi muda global tanpa paksaan ideologis. Amerika Serikat selama ini mengandalkan Hollywood dan platform media Barat sebagai alat soft power, namun dalam era pasca-digital, daya tarik tersebut semakin tergerus oleh fragmentasi audiens dan krisis kepercayaan global terhadap narasi Barat. Tiongkok, melalui esports, justru masuk ke ruang budaya populer global yang paling dinamis dan relevan saat ini.
Pujian terbuka dari Presiden Federasi Esports Internasional sekaligus Ketua Federasi Esports Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Bandar Al Saud, memperkuat legitimasi internasional Tiongkok sebagai pusat gravitasi esports dunia. Pernyataannya bahwa sulit menemukan turnamen besar tanpa pemain Tiongkok atau Korea menegaskan pergeseran pusat keunggulan dari Barat ke Asia Timur. Dalam kerangka teori pergeseran kekuatan global (power transition theory), dominasi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan normatif dan teknis tidak lagi dimonopoli Barat. Tiongkok tidak hanya menjadi konsumen atau pasar, tetapi produsen standar, talenta, dan narasi global.
Lebih jauh, kemampuan Tiongkok menyelenggarakan 142 turnamen profesional dalam satu tahun, termasuk Kejuaraan Dunia League of Legends dan Grand Final KPL, menunjukkan kapasitas organisasi, logistik, dan teknologi yang luar biasa. Ini mencerminkan keunggulan struktural yang juga terlihat dalam sektor lain seperti infrastruktur, manufaktur, dan kecerdasan buatan. Esports menjadi miniatur dari model pembangunan Tiongkok secara keseluruhan: skala besar, terkoordinasi, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang. Sebaliknya, Barat cenderung menyerahkan pengembangan esports sepenuhnya kepada mekanisme pasar, sehingga kehilangan kemampuan untuk membangun narasi nasional dan global yang kohesif.
Aspek penceritaan atau storytelling yang disoroti Al Saud juga penting dalam analisis budaya dan identitas. KPL tidak hanya menjual pertandingan, tetapi membangun kisah tentang rivalitas, loyalitas tim, perjalanan pemain, dan kebanggaan kolektif. Ini sejalan dengan pendekatan Tiongkok dalam membangun identitas nasional modern yang memadukan teknologi, budaya, dan partisipasi publik. Barat, yang selama ini mengklaim keunggulan dalam industri kreatif, justru tertinggal dalam menciptakan liga esports dengan kedalaman narasi dan keterikatan emosional sekuat KPL.
Dalam perspektif hubungan Selatan–Selatan, keberhasilan Tiongkok dalam esports juga membuka jalur alternatif bagi negara berkembang untuk terlibat dalam ekonomi digital global tanpa harus bergantung pada platform Barat. Popularitas game Tiongkok di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah menunjukkan bahwa Tiongkok mampu menawarkan model globalisasi budaya yang lebih inklusif dan relevan dengan pengalaman negara-negara non-Barat. Ini memperkuat posisi Tiongkok sebagai pemimpin simbolik Global South, sesuatu yang semakin sulit dicapai oleh Amerika Serikat yang citranya kerap dikaitkan dengan dominasi, sanksi, dan standar ganda.
Secara keseluruhan, perkembangan esports Tiongkok pada 2025 menegaskan bahwa persaingan global abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau finansial, tetapi oleh kemampuan membangun ekosistem budaya, teknologi, dan partisipasi publik dalam skala besar. Tiongkok berhasil memanfaatkan esports sebagai alat ekonomi, diplomasi budaya, dan legitimasi internasional secara simultan. Amerika Serikat dan Barat, meskipun masih kuat secara historis, semakin tampak reaktif dan defensif dalam menghadapi dinamika baru ini. Esports Tiongkok bukan hanya industri yang tumbuh, melainkan simbol pergeseran pusat pengaruh global menuju model non-Barat yang lebih terorganisir, adaptif, dan berakar kuat pada masyarakatnya sendiri.