Bharata Online - Munculnya robot pengatur lalu lintas “Hangxing No.1” di Kota Hangzhou serta penyebaran anjing robot dan robot humanoid patroli di Mianyang menegaskan sebuah realitas baru bahwa Tiongkok tidak lagi hanya membicarakan masa depan teknologi, melainkan telah mewujudkannya secara langsung di ruang publik.

Teknologi yang bertahun-tahun hanya dianggap sebagai konsep futuristik oleh media Barat kini telah berubah menjadi instrumen tata kelola kota yang nyata, efisien, dan dapat diamati manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari perspektif hubungan internasional, perkembangan ini bukan hanya kemajuan sosial dan ekonomi, tetapi juga menunjukkan elevasi kekuatan negara Tiongkok, yang semakin sulit disaingi oleh Amerika Serikat (AS) maupun negara-negara Barat yang terjebak dalam stagnasi institusional. Tiongkok telah mempercepat inovasi dari ide menjadi implementasi, dari laboratorium menjadi lapangan, dengan cara yang menunjukkan bagaimana kekuatan teknologi dapat menopang stabilitas dan legitimasi negara modern.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui techno-nationalism, sebuah pendekatan yang menempatkan inovasi sebagai fondasi kekuatan negara. Di Tiongkok, sinergi antara pemerintah lokal, kepolisian, pusat riset, dan perusahaan robotik menghasilkan siklus inovasi yang jauh lebih singkat dibandingkan Barat.

Hangxing No.1 adalah bukti nyata dari sinergi itu, ketika robot ini mengarahkan lalu lintas, memberi peringatan real-time, menyinkronkan lampu sinyal, hingga berpotensi di masa depan melayani interaksi suara berbasis Large Language Model. Ini bukan sekadar bukti kecanggihan teknologi, ini juga menunjukkan bagaimana negara mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam fungsi publik secara langsung, efisien, dan terukur.

Ketika sebuah teknologi dipakai secara luas di jalan-jalan, bukan hanya dipamerkan dalam konferensi atau laboratorium, teknologi tersebut berubah menjadi kekuatan sosial dan politik. Penggunaannya mengurangi beban kerja petugas manusia, mempercepat respons terhadap pelanggaran, dan menciptakan kepatuhan spontan di kalangan masyarakat, seperti yang disampaikan warga yang secara tidak sadar langsung mengantri dengan benar ketika melihat robot tersebut memantau jalan.

Pendekatan Tiongkok ini memberikan keunggulan dalam konteks realistis hubungan internasional yang menganggap bahwa kekuatan negara tidak hanya berasal dari senjata atau ekonomi, tetapi juga dari kapasitas internal untuk mempertahankan ketertiban, keamanan, dan stabilitas sosial.

Robot lalu lintas, anjing robot, dan robot humanoid bukanlah simbol fiksi ilmiah, mereka adalah alat yang memperkuat kekuatan negara melalui peningkatan efektivitas tata kelola. Ini memperkuat daya tahan domestik, menambah legitimasi pemerintahan, dan meningkatkan kepercayaan publik melalui pelayanan yang tampak jelas hasilnya.

Negara yang mampu menjaga efisiensi keamanan publik akan lebih siap menghadapi ancaman internal dan eksternal, sekaligus menegaskan dirinya di panggung global sebagai model tata kelola yang modern dan adaptif.

Selain itu, pendekatan Tiongkok mencerminkan pragmatisme yang konsisten bahwa negara mengizinkan eksperimen berskala kecil pada tingkat kota untuk menguji efektivitas teknologi sebelum diterapkan secara nasional. Dengan uji coba di Hangzhou dan Mianyang, Tiongkok memastikan bahwa teknologi diuji bukan sekadar berdasarkan teori, tetapi berdasarkan kondisi lapangan yang nyata, termasuk kepadatan lalu lintas, pola perilaku warga, hingga respons terhadap situasi darurat.

Model governance berbasis eksperimen ini efektif membangun kepercayaan publik, karena masyarakat dapat melihat dampak langsung tanpa harus melalui kampanye retorik yang berlebihan. Warga mengakui bahwa robot memberikan peringatan cepat, memudahkan penyebrang jalan, dan membantu mengurangi kekacauan lalu lintas, sementara anjing robot membantu patroli dengan kemampuan kamera 360 derajat dan kemampuan non-lethal restraint seperti menembakkan jaring penahan.

Semua ini memperlihatkan kombinasi antara kecerdasan buatan, keamanan publik, dan efisiensi administrasi yang jarang sekali bisa dicapai oleh negara-negara Barat yang proses adopsinya tersendat oleh birokrasi, regulasi privasi yang tidak fleksibel, dan resistensi politik internal.

Dari perspektif konstruktivis, kehadiran robot-robot ini juga membentuk norma sosial baru. Robot di persimpangan membuat warga lebih disiplin bukan karena rasa takut, tetapi karena persepsi bahwa sistem menjadi lebih tertib dan moderat. Norma kepatuhan yang terbentuk bukanlah hasil pemaksaan, tetapi hasil perubahan lingkungan sosial melalui teknologi.

Tiongkok menjadi contoh negara yang memanfaatkan teknologi bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai katalis pembentuk budaya ketertiban dan efisiensi. Ketika robot menjadi aktor sosial baru dalam ruang publik, masyarakat belajar berinteraksi dengan sistem yang lebih terprediksi, sehingga menciptakan ekosistem perilaku yang lebih kooperatif.

Barat, yang sering memandang teknologi robotik dengan lensa ketakutan terhadap pengawasan atau penyalahgunaan, sebenarnya tertinggal dalam memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membangun norma dan etika publik yang lebih baik.

Keunggulan lain yang membuat Tiongkok lebih maju dibandingkan Barat adalah ekosistem produksi teknologinya. Tiongkok memiliki rantai pasok lengkap untuk sensor, kamera, komponen mekanik, hingga chip kecerdasan buatan. Hal ini memungkinkan produk seperti Hangxing No.1 dibuat dan diproduksi secara cepat dengan biaya lebih rendah, sekaligus memudahkan pemerintah kota untuk melakukan procurement tanpa harus menunggu impor dari negara lain.

Sementara itu, AS dan Eropa menghadapi tantangan fragmentasi industri, biaya manufaktur tinggi, dan ketergantungan pada impor dari Asia. Keunggulan struktural inilah yang membuat Tiongkok dapat memobilisasi teknologi publik dalam skala besar, sementara negara-negara Barat lebih banyak terjebak dalam uji coba terbatas yang tidak terintegrasi dengan tata kelola kota secara keseluruhan.

Namun demikian, penggunaan sensor real-time dan kamera beresolusi tinggi menimbulkan pertanyaan etis mengenai privasi, perlindungan data, dan potensi penyalahgunaan. Tiongkok perlu memastikan bahwa setiap teknologi dilengkapi standar etika, audit internal, dan aturan transparansi yang kuat untuk menjaga kepercayaan publik.

Tetapi di sisi lain, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa banyak warga Tiongkok sendiri merasakan manfaat nyata, mulai dari keamanan hingga kenyamanan. Ketika hasilnya jelas, resistensi publik cenderung menurun. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagaimana menciptakan keseimbangan antara inovasi cepat dan regulasi etis yang kuat.

Dengan mekanisme uji coba terbuka seperti yang diterapkan di Hangzhou dan Mianyang, Tiongkok memiliki ruang untuk menyempurnakan model ini sebelum ekspansi nasional penuh. Pada akhirnya, implikasi global dari perkembangan ini sangat besar. Robot lalu lintas dan anjing robot bukan hanya alat teknis, tetapi juga instrumen soft power.

Negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin melihat bahwa Tiongkok mampu menghasilkan solusi kota pintar yang murah, praktis, dan langsung bisa digunakan. Ini menjadikan Tiongkok sebagai penyedia solusi urban modern yang mampu menggantikan posisi Barat yang selama bertahun-tahun mendominasi standar teknologi.

Jika kompetisi global saat ini bergeser dari siapa yang memiliki teknologi paling canggih di laboratorium menjadi siapa yang paling cepat menerapkannya dalam kehidupan nyata, maka Tiongkok sedang memimpin dengan jarak yang semakin jauh.

Oleh karena itu, perkembangan robotik di Tiongkok bukan hanya kisah teknologi, tetapi kisah tentang bagaimana negara modern menyusun strategi kekuatan. Tiongkok menunjukkan bahwa inovasi bukan sekadar kemampuan menciptakan teknologi, tetapi kemampuan menerjemahkannya menjadi kapabilitas publik yang konkret.

Efektivitas lapangan, kecepatan implementasi, dan integrasi teknologi ke dalam pelayanan publik menjadikan Tiongkok contoh jelas bagaimana sebuah negara dapat melampaui Barat dalam memanfaatkan era kecerdasan buatan. Dan jika tren ini terus berlanjut, masa depan tata kelola berbasis kecerdasan buatan kemungkinan besar akan ditentukan oleh Tiongkok, bukan oleh negara-negara Barat yang masih berdebat soal regulasi tanpa berani mengambil langkah nyata di lapangan.