Beijing, Radio Bharata Online - Menurut seorang pejabat senior di Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) Tiongkok pada hari Jum'at (12/1), perdagangan Tiongkok dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) terus tumbuh pada tahun 2023, dengan keduanya tetap menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain.

Lyu Daliang, Direktur Jenderal Departemen Statistik dan Analisis GAC, dalam sebuah konferensi pers di Beijing mengatakan integrasi ekonomi antara Tiongkok dan ASEAN telah tumbuh lebih kuat dan kerja sama ekonomi dan perdagangan telah dipercepat setelah upaya bertahun-tahun oleh kedua belah pihak.

Menurutnya, perdagangan antara Tiongkok dan ASEAN telah tumbuh pada tingkat tahunan rata-rata 8,8 persen sejak 2013, 3,8 poin persentase lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata perdagangan luar negeri Tiongkok pada periode yang sama. Pada tahun 2023, perdagangan bilateral terus tumbuh, mencapai 6,41 triliun yuan (sekitar 14 ribu triliun rupiah). ASEAN tetap menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok selama empat tahun berturut-turut, dan Tiongkok juga telah menjadi mitra dagang terbesar ASEAN selama bertahun-tahun berturut-turut.

Lyu juga mengatakan bahwa Tiongkok dan negara-negara ASEAN telah memanfaatkan keunggulan masing-masing dan memperdalam pengembangan industri dan rantai pasokan yang terintegrasi.

"Pada tahun 2023, Tiongkok mengimpor dan mengekspor barang setengah jadi senilai 4,13 juta yuan (sekitar 9 miliar rupiah) dari dan ke ASEAN, dan ASEAN tetap menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok untuk barang setengah jadi selama bertahun-tahun berturut-turut. Kedua belah pihak terus memperdalam kerja sama di bidang energi hijau dan elektronik konsumen. Ekspor baterai lithium dan sel surya Tiongkok ke ASEAN, serta impor komponen untuk peralatan audiovisual telah berkembang pesat. Pada saat yang sama, ASEAN merupakan sumber penting bagi produk pertanian dan energi bagi Tiongkok," kata Lyu.

Lyu mencatat bahwa impor minyak kelapa sawit Tiongkok terutama berasal dari Indonesia dan Malaysia, sementara Indonesia dan Myanmar merupakan sumber terbesar untuk batu bara dan bijih timah bagi Tiongkok.

Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa perbatasan darat antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN ramai dengan penumpang dan barang pada tahun lalu, dengan Pelabuhan Dongxing di Daerah Otonomi Guangxi Zhuang dan Pelabuhan Hekou di Yunnan di barat daya Tiongkok yang bertetangga dengan negara-negara anggota ASEAN seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar yang mencatat lebih dari 10.000 penyeberangan setiap hari, melanjutkan kejayaan mereka sebelum pandemi.

Kereta Api Tiongkok-Laos telah sangat memudahkan perjalanan sejak memulai transportasi penumpang pada April 2023, kata Lyu, seraya menambahkan bahwa Bea Cukai mencatat total 114.200 perjalanan penumpang dengan kereta api pada akhir 2023.

Lyu menyatakan keyakinannya bahwa perdagangan bilateral akan terus berkembang di masa depan.

"Dengan percepatan negosiasi Versi 3.0 Tiongkok-ASEAN Free Trade Area, kerja sama antara kedua belah pihak akan semakin diperluas dan perdagangan bilateral akan mempertahankan momentum yang baik," ujar Lyu.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa otoritas bea cukai China akan menerapkan berbagai kebijakan tentang fasilitasi bea cukai, dan bekerja untuk terus mempromosikan pembangunan pelabuhan perbatasan pintar antara China dan Vietnam, dan mendukung operasi berkualitas tinggi dari Kereta Api China-Laos.

Lyu juga mengatakan bahwa GAC akan mendukung pembangunan Koridor Darat-Laut Barat Baru dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perdagangan bilateral antara China dan ASEAN.

Dengan pembangunan yang akan selesai pada tahun 2025, Koridor Darat-Laut Barat Baru akan membentang dari Chengdu dan Chongqing di barat daya Tiongkok hingga Pelabuhan Teluk Beibu dan Pelabuhan Yangpu di Provinsi Hainan di selatan, yang akan menghubungkan wilayah pedalaman barat laut Tiongkok dengan pelabuhan-pelabuhan utama di selatan.