JAKARTA, Bharata Online - Pengusuha pemilik Grup Djarum Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada hari ini, Kamis (19/3). Ia mengembuskan napas terakhirnya di Singapura pada pukul 13.15 waktu setempat. Kabar wafatnya Bambang Hartono dikonfirmasi Corporate Communication Senior Manager Group Djarum Budi Darmawan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi lebih lanjut mengenai rencana terkait lokasi pemakaman.
Michael Bambang Hartono sendiri merupakan anak dari keluarga keturunan Tionghoa yang lahir di Jawa. Ia sekeluarga merupakan pemilik dari PT Djarum atau Djarum Group, dan juga pemilik saham terbesar di BCA.
Bambang Hartono lahir 2 Oktober 1939 dan memiliki adik bernama Robert Budi Hartono. Keduanya terkenal sebagai Hartono bersaudara yang sama sama mewarisi Djarum dari sang ayah.
Dalam beberapa kesempatan, Bambang Hartono sering kali tampil sederhana dengan kemeja atau kaos berkerah polos. Ia juga pernah tertangkap kamera makan di warung sederhana, bahkan dia diketahui langganan di warung itu.
Kisah perjalanan Bambang Hartono dan keluarganya membangun bisnis diketahui tidak mudah. Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono dahulu ditinggal ayah mereka; Oei Wie Gwan, pada usia yang cukup muda, yakni 23 dan 24 tahun.
Pada saat itu, ayahnya sudah memiliki usaha pabrik rokok kretek bernama Djarum yang telah dijalankan sejak 21 April 1951 oleh ayah mereka. Sepeninggalan ayahnya, bisnis Djarum harus dilanjutkan oleh kedua bersaudara itu.
Namun, tidak mudah juga perjalanannya. Mereka berdua harus melanjutkan perjuangan PT Djarum dengan kondisi mengenaskan. Pabrik rokok tersebut terbakar di tahun yang sama dan meninggalkan PT Djarum dalam kesulitan keuangan.
Hartono bersaudara pun melanjutkan usaha pabrik rokok yang ada di kota Kudus, Jawa Tengah tersebut pada masa mudanya. Berkat naluri bisnis dan ketekunan mereka, Hartono bersaudara akhirnya berhasil membawa perusahaan ini ke posisi yang lebih bergengsi sebagai salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
Hartono bersaudara pun melanjutkan usaha pabrik rokok yang ada di kota Kudus, Jawa Tengah tersebut pada masa mudanya. Berkat naluri bisnis dan ketekunan mereka, Hartono bersaudara akhirnya berhasil membawa perusahaan ini ke posisi yang lebih bergengsi sebagai salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
Pada tahun 1970-an, Djarum sukses menjadi salah satu pemasok rokok cengkeh terbesar di dunia. Pada tahun 1972, Djarum mulai mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981.
Keluarga Hartono membeli saham di BCA, setelah keluarga kaya lainnya, Salim, kehilangan kendali atas bank itu selama krisis ekonomi Asia 1997-1998. Lantaran kinerja terus memberikan hasil positif, Djarum pun menambah porsi kepemilikan di bank terbesar di Indonesia tersebut hingga akhirnya kini memiliki porsi saham mayoritas.
Adapun gurita bisnis Hartono bersaudara tersebut berkembang, mulai dari peralatan elektronik, properti, perkebunan hingga teknologi informasi dan game online. [Detik.com]