Juru bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok, Wu Qian, pada hari Rabu kemarin (25/10) menanggapi Laporan Tahunan Perkembangan Militer dan Keamanan Tiongkok yang dilontarkan oleh Pentagon Amerika Serikat (AS).
Wu Qian mengatakan bahwa baru-baru ini, Pentagon AS mengeluarkan Laporan Tahunan Perkembangan Militer dan Keamanan Tiongkok dengan tanpa memedulikan fakta dan kenyataan, secara terang-terangan membuat kabar palsu dan sengaja mendistorsi dan mencoreng kebijakan pertahanan dan strategi militer Tiongkok, menggembar-gemborkan apa yang disebut sebagai “ancaman militer Tiongkok” yang tidak ada, secara sembarangan memprediksikan perkembangan kekuatan militer Tiongkok di bidang nuklir, antariksa, dan siber, serta main tuding dalam masalah Taiwan dan mengintervensi urusan dalam negeri Tiongkok, Tiongkok menyatakan kekecewaan keras dan penentangan tegas atas hal tersebut, dan telah mengajukan representasi serius kepada pihak AS.
Wu Qian menyatakan, Tiongkok mempertahankan jalan pembangunan yang damai, dan melaksanakan kebijakan pertahanan defensif, tak pernah melakukan penindasan dan pemaksaan kepada negara kecil dan lemah, selama 70 tahun lebih sejak RRT berdiri, Tiongkok tak pernah memicu perang apa pun, dan tak pernah menginvasi satu inci pun tanah negara lain. Sebaliknya, AS yang sudah kecanduan agresi dan perang, dalam sejarah 240 tahun lebih sejak berdiri hanya 16 tahun tak pernah terlibat dalam perang, selain itu AS telah mendirikan 800 lebih pangkalan militer luar negeri di lebih dari 80 negara dan daerah di dunia, mulai dari Afghanistan sampai Irak, dari Suriah sampai ke Lybia, mesin perang AS selalu menjerumuskan rakyat setempat ke dalam penderitaan. Pihak AS mengirim bom uranium habis dan bom klaster ke Ukraina, mengirim armada kapal induk ke Mediterania, dan mengakut amunisi ke Israel, itukah “kebahagiaan” yang dibawa oleh “penjaga HAM” kepada kawasan? Fakta dan kenyataan sudah membuktikan bahwa AS barulah sumber kerusuhan ketertiban internasional, dalang di balik keguncangan dunia dan perusak terbesar perdamaian dan kestabilan regional.
Wu Qian mengatakan bahwa dalam menghadapi iklim keamanan internasional yang serius dan rumit, Tiongkok harus membangun sebuah pasukan militer yang kuat, dan tentara Tiongkok tak akan duduk melihat kedaulatan, keamanan dan kepentingan pembangunannya dirugikan, serta tak akan mengizinkan siapa pun dan kekuatan mana pun mengagresi dan memecah-belah Tiongkok. Pembangunan pasukan militer Tiongkok bertujuan untuk mengendalikan ancaman perang, menjaga keamanannya sendiri serta memelihara perdamaian dunia, tidak ditujukan kepada negara dan target tertentu, hal itu sah, legal dan rasional. Tiongkok selalu memelihara kekuatan nuklir pada taraf terendah untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional, dan selalu berupaya menjaga keamanan strategis global. Sementara itu, pihak AS malah mengundurkan diri dari sejumlah traktat pengontrolan kekuatan militer seperti Traktat Anti-Rudal Balistik dan Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF), serta meningkatkan kekuatan nuklir “tiga dimensi”. Kerja sama kapal selam AS, Inggris dan Australia telah mengakibatkan risiko proliferasi nuklir yang serius, dan merusak perdamaian dan kestabilan di kawasan. Pihak AS memanipulasi topik nuklir dan memainkan standar ganda seputar masalah nuklir, hal itu bertujuan untuk mengekspansi amunisi senjata nuklir dan mempertahankan hegemoni militernya.
Wu Qian menunjukkan, pengembalian Taiwan ke Tiongkok merupakan bagian penting dalam ketertiban internasional pasca Perang Dunia II, dan hal tersebut sudah tercantum dalam Deklarasi Kairo dan Proklamasi Potsdam, prinsip satu Tiongkok yang diverifikasi Resolusi PBB no.2758 itu sudah menjadi kesepahaman internasional. Pihak AS dan pihak Partai Progresif Demokratik Taiwan barulah “pembuat masalah” dalam ketegangan Selat Taiwan. Tindakan seperlunya yang diambil Tiongkok untuk menjaga kedaulatan wilayah nasional adalah sah, rasional dan legal, pihak AS tak berkualifikasi untuk main tuding. Tiongkok mendesak pihak AS untuk menghentikan peningkatan kontak militernya dan secara ilegal mempersenjatai Taiwan dengan alasan dan dalam bentuk apa pun, berhenti menciptakan ketegangan di Selat Taiwan, serta menghentikan dukungannya kepada kekuatan separatis “Taiwan Merdeka” yang bersikeras “mengupayakan kemerdekaan dengan mengandalkan kekuatan militer”. Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok berkeyakinan dan mampu mengalahkan segala intervensi kekuatan eksternal dan niat pemecah-belahan “Taiwan Merdeka”, demi mewujudkan penyatuan kembali Tiongkok secara komprehensif.
Wu Qian menekankan bahwa selama lebih dari 20 tahun ini, pihak AS nekat mempertahankan pemahaman salahnya terhadap Tiongkok, berulang kali mengeluarkan laporan yang penuh dengan kebohongan dan nada klise, hal tersebut pada akhirnya hanya akan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Tiongkok mendesak pihak AS untuk berhenti membuat kebohongan, membetulkan pemahaman salahnya terhadap Tiongkok, bersikap tulus dan melakukan tindakan yang nyata untuk mendorong perkembangan hubungan kedua negara dan pasukan militer kedua negara yang sehat dan mantap.
Pewarta : CRI