Bern, Radio Bharata Online - Anggota Dewan Federal Swiss, Guy Parmelin, yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Urusan Ekonomi, Pendidikan, dan Penelitian Federal, mengatakan bahwa Swiss bekerja sama dengan Tiongkok dalam Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) dan berbagai bidang seperti keuangan, dan kerja sama ini telah saling menguntungkan.

Pada tahun 2019, Tiongkok dan Swiss menandatangani Nota Kesepahaman tentang Prakarsa Sabuk dan Jalan, yang berfokus pada kerja sama di pasar pihak ketiga.

Dalam sebuah wawancara dengan China Central Television (CCTV) yang direkam pada 11 Januari 2024 di Bern, Swiss dan disiarkan pada hari Jum'at (2/2), Parmelin membahas pentingnya berpartisipasi dalam BRI dan peran Swiss dalam proyek tersebut.

"Saya percaya ini adalah prakarsa yang sangat penting. Swiss juga merupakan salah satu negara anggota pendiri Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), yang merupakan salah satu bank pembangunan multilateral dalam arsitektur keuangan global. Melalui AIIB, kami dapat melakukan investasi di negara-negara yang berpartisipasi dalam pembangunan bersama 'Prakarsa Sabuk dan Jalan'," kata Parmelin.

AIIB yang berkantor pusat di Beijing, yang mulai beroperasi pada Januari 2016, merupakan bank pembangunan multilateral dan lembaga keuangan internasional yang didirikan untuk membantu mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, menciptakan kemakmuran, dan meningkatkan konektivitas infrastruktur di Asia.

AIIB telah berkembang menjadi lembaga pembangunan multilateral terbesar kedua di dunia dengan 109 negara anggota.

"Saya akan memberikan sebuah contoh. Swiss sedang bersiap untuk berinvestasi di Uzbekistan untuk memperbaiki situasi pasokan air di negara tersebut, dan ini difasilitasi melalui AIIB. Selain itu, 'Prakarsa Sabuk dan Jalan' juga bertujuan untuk mencapai keuntungan bersama," tambah Parmelin.

Parmelin mengatakan bahwa ia optimis dengan prospek kerja sama keuangan antara kedua negara, dan berharap untuk meningkatkan perjanjian perdagangan bebas bilateral.

"Saya selalu optimis tentang hal ini. Saya orang yang pragmatis, dan saya tahu bahwa semuanya tidak mudah. Masing-masing pihak akan mempertahankan kepentingannya. Jika hanya satu pihak yang menang dan pihak lainnya kalah, kita tidak akan pernah bisa mencapai kesepakatan atau bekerja sama. Ini harus adil dan setara bagi kedua belah pihak. Saya percaya bahwa, hingga saat ini, perjanjian antara Tiongkok dan Swiss telah saling menguntungkan," kata Parmelin.

"Kedua belah pihak telah saling berinvestasi satu sama lain, dan kerja sama kami tidak terbatas pada aspek ekonomi dan teknologi, tetapi juga meluas ke pelatihan kejuruan dan bidang lainnya. Saya yakin kita dapat lebih meningkatkan perjanjian perdagangan bebas bilateral dan mempromosikan dialog di berbagai bidang. Saat ini kami memiliki lebih dari 30 mekanisme dialog di berbagai bidang, dan prospek kerja sama Swiss-Tiongkok terlihat sangat menjanjikan," imbuhnya.