Bharata Online - Peresmian kapal induk Fujian pada 5 November 2025 di pelabuhan militer Sanya, Hainan, bukan sekadar peristiwa militer rutin. Ini adalah simbol kebangkitan teknologi, kemandirian industri, dan ambisi geopolitik Tiongkok dalam menantang dominasi maritim Barat yang telah berlangsung lebih dari seabad.
Dengan dihadiri langsung oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis (PKT) dan Ketua Komisi Militer Pusat, upacara pengibaran bendera kapal induk Fujian menjadi deklarasi politik dan strategis bahwa era keunggulan tunggal Amerika Serikat (AS) di laut mulai menghadapi pesaing nyata dari Timur.
Fujian adalah kapal induk ketiga Tiongkok dan yang pertama sepenuhnya dirancang, dibangun, serta dioperasikan dengan teknologi dalam negeri. Dengan bobot benaman lebih dari 80.000 ton dan sistem ketapel elektromagnetik (Electromagnetic Aircraft Launch System/EMALS) yang canggih, Fujian mampu meluncurkan tiga jenis pesawat, termasuk jet tempur siluman J-35 dan pesawat peringatan dini udara KJ-600.
Teknologi ini sebelumnya hanya dimiliki oleh AS melalui kapal induk bertenaga nuklir kelas Gerald R. Ford. Namun Tiongkok berhasil melampaui hambatan besar dengan menjadikannya berfungsi secara penuh di kapal induk bertenaga konvensional, sebuah pencapaian yang bahkan belum dicapai oleh negara Barat mana pun.
Dari perspektif strategis, Fujian bukan hanya mesin perang terapung tapi juga manifestasi kebangkitan peradaban Timur dalam bidang militer dan teknologi maritim. Jika pada abad ke-20 kekuatan laut menjadi simbol supremasi Barat, maka abad ke-21 memperlihatkan transformasi perimbangan kekuatan yang semakin condong ke Asia.
Tiongkok kini menampilkan diri bukan hanya sebagai kekuatan ekonomi dan manufaktur dunia, tetapi juga sebagai kekuatan militer berteknologi tinggi yang mampu menjaga kepentingan nasionalnya hingga ke samudra jauh.
Melalui lensa teori realisme struktural dalam hubungan internasional, langkah Tiongkok sangat rasional dan logis. Dunia tetap beroperasi dalam sistem anarki di mana tidak ada otoritas global yang menjamin keamanan setiap negara. Karena itu, membangun kekuatan laut strategis adalah cara Tiongkok memastikan kelangsungan kedaulatan dan perlindungan jalur perdagangan vitalnya terutama di Laut China Selatan, Samudra Hindia, hingga rute energi menuju Timur Tengah dan Afrika.
Ketika AS menempatkan kapal induk di sekitar Taiwan atau menggelar latihan bersama sekutunya di Indo-Pasifik, Fujian adalah jawaban konkret Tiongkok untuk menyeimbangkan kekuatan dan menegaskan bahwa dominasi Barat tidak lagi tak terbantahkan.
Secara teknologis, Fujian adalah hasil dari dua dekade penelitian dan inovasi domestik. Profesor Lu Junyong dari Universitas Teknik Angkatan Laut Tiongkok menjelaskan bahwa sistem ketapel elektromagnetik dikembangkan sepenuhnya tanpa data atau referensi asing, dan mampu meluncurkan berbagai jenis pesawat tanpa kegagalan. Ini bukan sekadar inovasi teknik, tetapi bukti keberhasilan sistem riset nasional Tiongkok yang mampu bersaing dengan model penelitian Barat yang berbasis kapital dan korporasi swasta.
Dalam sistem sosialisme Tiongkok, inovasi strategis dipandang sebagai proyek nasional, bukan semata keuntungan komersial. Hasilnya, koordinasi antara industri pertahanan, lembaga riset, dan universitas menghasilkan lompatan teknologi yang kini mengancam monopoli militer Barat.
Selain itu, Fujian juga melambangkan evolusi strategi maritim Tiongkok dari pendekatan anti-akses/penolakan area (Anti-Access/Area Denial (A2/AD)) menuju kemampuan blue-water navy atau angkatan laut perairan biru sejati. Dua kapal induk sebelumnya, Liaoning dan Shandong dibangun sebagai batu loncatan. Namun Fujian mengubah paradigma dari pertahanan regional menjadi proyeksi kekuatan global.
Dengan kemampuan meluncurkan pesawat berat dan jarak jauh, Tiongkok kini dapat melakukan patroli, bantuan kemanusiaan, atau misi penjagaan perdamaian jauh di luar perairannya sendiri. Dalam konteks ini, Tiongkok tidak hanya menyaingi AS dari sisi militer, tetapi juga dari sisi fungsi global yang konstruktif dalam menjaga stabilitas jalur perdagangan internasional serta menghadirkan alternatif tatanan keamanan yang lebih multipolar dan berkeadilan.
Bandingkan dengan AS, yang selama puluhan tahun mengoperasikan kapal induk sebagai alat tekanan politik dan intervensi di negara lain. Dalam banyak kasus dari Irak hingga Libya, kapal induk Amerika menjadi simbol hegemoni yang memicu perang dan instabilitas.
Sementara itu, Tiongkok menggunakan Fujian bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk melindungi, menjaga jalur energi, dan menegakkan prinsip non-intervensi yang menjadi fondasi kebijakan luar negerinya. Dengan demikian, Fujian dapat dilihat sebagai alat pertahanan aktif yang justru mendorong stabilitas kawasan, bukan sebaliknya.
Dari sisi industri dan ekonomi pertahanan, Fujian juga menunjukkan keunggulan sistem produksi nasional Tiongkok. Dalam waktu kurang dari dua dekade, Tiongkok berhasil membangun tiga kapal induk, sementara beberapa negara Barat bahkan tak lagi mampu memproduksi satu pun kapal induk baru karena biaya dan ketergantungan industri.
China State Shipbuilding Corporation (CSSC) melalui galangan Jiangnan Shipyard di Shanghai berhasil mengatasi tantangan teknis luar biasa dari pengelasan baja bertegangan tinggi, sistem listrik berdaya besar, hingga integrasi peralatan presisi dengan sumber daya manusia dalam negeri.
Direktur CSSC, Qiao Jia, menegaskan bahwa kapal induk masa depan Tiongkok akan “lebih besar, lebih cepat, lebih pintar, dan membawa lebih banyak pesawat.” Ini adalah bentuk kepercayaan diri industri nasional yang belum pernah sekuat ini sejak Revolusi Industri.
Dalam konteks hubungan internasional kontemporer, kehadiran Fujian juga menggeser dinamika kekuatan di Indo-Pasifik. Negara-negara sekutu AS di kawasan seperti Jepang, Australia, dan Filipina mungkin merasa khawatir, tetapi di sisi lain, banyak negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin melihatnya sebagai tanda lahirnya keseimbangan global baru.
Di tengah ketegangan yang kerap dimonopoli oleh Washington, Beijing hadir dengan pendekatan multipolar yang menolak satu pusat kekuasaan global. Ini sejalan dengan teori balance of power klasik bahwa perdamaian hanya dapat terjaga jika kekuatan dunia terbagi secara seimbang di antara para pemain besar.
Lebih jauh lagi, Fujian membawa pesan ideologis yang dalam bahwa modernisasi ala Tiongkok bisa menghasilkan keunggulan teknologi tanpa harus meniru model liberal Barat. Sistem politik yang stabil, perencanaan jangka panjang, dan mobilisasi sumber daya secara terpusat terbukti efisien untuk proyek strategis nasional berskala besar.
Hal ini kontras dengan Barat yang sering terhambat oleh siklus politik lima tahunan dan perdebatan partai yang menunda kebijakan strategis. Dalam hal ini, Fujian menjadi bukti bahwa efisiensi sistem politik sosialis dengan karakteristik Tiongkok mampu menandingi bahkan melampaui kecepatan dan efektivitas model demokrasi liberal Barat dalam mencapai tujuan nasional.
Meski begitu, objektivitas tetap diperlukan. Fujian masih harus melewati tahap integrasi operasional, pelatihan intensif, dan pembentukan gugus tempur laut terpadu. Namun pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa setiap langkah pengembangan militernya selalu disertai pembelajaran institusional yang cepat. Dari nol kapal induk pada awal 2000-an, kini Tiongkok memiliki tiga kapal yang berfungsi dan satu lagi dikabarkan sedang dirancang dengan tenaga nuklir. Ini menunjukkan konsistensi, bukan hanya ambisi.
Dalam pandangan luas, Fujian adalah simbol transisi peradaban global dari Barat ke Timur. Ia menandai bahwa Tiongkok tidak lagi sekadar mengikuti arus sejarah, tetapi sudah mulai menulis sejarahnya sendiri. Bagi AS dan Barat, Fujian adalah pengingat bahwa monopoli atas lautan, teknologi, dan kekuatan militer tidaklah abadi. Dunia kini bergerak menuju keseimbangan baru yang lebih beragam, di mana kekuatan Timur membawa paradigma berbeda dalam stabilitas, pembangunan bersama, dan pertahanan kedaulatan, bukan dominasi.
Dengan demikian, lahirnya Fujian bukan hanya kemenangan militer Tiongkok, melainkan juga kemenangan ideologis dan moral bagi dunia multipolar yang tengah tumbuh. Jika Barat membangun kapal induk untuk menaklukkan, maka Timur membangunnya untuk menjaga perdamaian. Dan di bawah kepemimpinan Xi Jinping, Tiongkok kini berdiri di geladak Fujian bukan sebagai pengikut sejarah, tetapi sebagai nakhoda baru peradaban global abad ke-21.