Beijing, Radio Bharata Online - Kerja sama pragmatis Tiongkok dengan negara-negara yang terlibat dalam Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) telah mendorong pembangunan ekonomi dan meningkatkan mata pencaharian di seluruh dunia selama satu dekade terakhir, menurut seorang pejabat senior Tiongkok.
Dengan bekerja sama, Tiongkok dan negara-negara BRI telah mencapai keuntungan bersama dan hasil yang saling menguntungkan, menurut Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok, Guo Tingting.
Menurut Guo, erdagangan barang Tiongkok dengan negara-negara BRI mencapai hampir 2,9 triliun dolar AS (sekitar 45 ribu triliun rupiah) pada tahun 2022, menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang utama bagi lebih dari 110 negara peserta BRI. Ia juga mengatakan bahwa investasi langsung Tiongkok di negara-negara peserta BRI melebihi 30 miliar dolar AS (sekitar 470 triliun rupiah), sementara Tiongkok telah menarik investasi lebih dari 20 miliar dolar AS (sekitar 314 triliun rupiah) dari negara-negara tersebut pada tahun lalu.
"Pasar Tiongkok yang luas memberikan peluang pengembangan yang signifikan bagi negara-negara yang berpartisipasi dalam BRI. Barang-barang dari negara-negara ini sekarang menyumbang hampir setengah dari total impor Tiongkok. Kerja sama perdagangan dan investasi antara Tiongkok dan negara-negara peserta BRI telah mengoptimalkan alokasi sumber daya dan mendorong pengembangan industri dan rantai pasokan yang terintegrasi," ujar Guo.
Menurutnya, terinspirasi oleh BRI, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah berpartisipasi dalam proyek-proyek infrastruktur di negara-negara yang berpartisipasi, yang meliputi sektor-sektor seperti transportasi, konstruksi sipil, dan proyek-proyek pembangkit listrik.
Tiongkok telah menandatangani kontrak dengan negara-negara peserta BRI senilai dua triliun dolar AS (sekitar 31 ribu triliun rupiah) dalam 10 tahun terakhir, dan menyelesaikan proyek-proyek senilai 1,3 triliun dolar AS (sekitar 20 ribu triliun rupiah), memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
"Selama 10 tahun, nilai kontrak proyek di luar negeri yang telah dilaksanakan telah melebihi 100 miliar dolar AS (sekitar 1.570 triliun rupiah) per tahun. Pada saat yang sama, kami juga berfokus pada peningkatan mata pencaharian masyarakat, dan mempromosikan serangkaian proyek 'kecil tapi indah', termasuk proyek budidaya jamur dan padi hibrida, serta melatih 350.000 orang. Ke depannya, kami akan memandu perusahaan-perusahaan untuk mempromosikan pembangunan proyek di luar negeri dan memfasilitasi pelaksanaan proyek-proyek yang lebih berkualitas tinggi," jelas Guo.
Guo juga mengatakan bahwa Tiongkok telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan 20 negara peserta BRI dan memajukan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), zona perdagangan bebas terbesar di dunia yang populasi, PDB, dan volume perdagangannya mencapai 30 persen dari total perdagangan global.
Dalam contoh pertama, Tiongkok telah membentuk jaringan global zona perdagangan bebas yang berbasis di wilayah tetangga dan menghubungkan negara-negara peserta BRI.
"Ke depan, Tiongkok akan terus memperdalam kerja sama praktis dengan negara-negara peserta BRI dan lebih jauh memperluas jaringan zona perdagangan bebas berstandar tinggi yang mencakup seluruh dunia, sehingga perusahaan dan orang-orang dari negara-negara yang berpartisipasi dapat menikmati keuntungan institusional dari perjanjian perdagangan bebas pada tahap yang lebih awal dan pada tingkat yang lebih besar," ujar Guo.
Prakarsa Sabuk dan Jalan diusulkan oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping, 10 tahun yang lalu sebagai rencana untuk membangun rute maritim dan jaringan infrastruktur darat yang menghubungkan negara tersebut dengan seluruh dunia.