Beijing, Radio Bharata Online - Mantan Menteri Luar Negeri Mesir, Nabil Fahmy, telah memperingatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk tidak terlalu mendalami Barat dalam hubungannya dengan Israel, tetapi untuk memimpin dalam memprakarsai perang atau perdamaian di wilayah mereka sendiri.
Dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) di sela-sela Forum Perdamaian Dunia ke-12 yang diselenggarakan di Beijing pada tanggal 5 hingga 7 Juli 2024, Fahmy mengatakan bahwa masyarakat Barat tidak digerakkan oleh konsep benar dan salah, melainkan oleh analisis biaya-manfaat untuk mengejar keuntungan maksimum.
"Masyarakat Barat yang materialistis, secara ekonomi dan politik, tidak pernah peduli tentang benar dan salah. Itu selalu tentang analisis biaya-manfaat. Ketika ada ketidakseimbangan, maka pada akhirnya mereka menggunakan motivasi kapitalis untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya," ujarnya.
"Saya sama sekali tidak berusaha menjadi anti-Barat, namun saya mengulangi apa yang saya sampaikan kepada orang-orang di negara saya: Jangan terlalu bergantung pada Barat, bersahabatlah dengan Barat, manfaatkan Barat untuk tujuan-tujuan yang baik, upayakan agar mereka membantu Anda karena mereka memiliki pengaruh terhadap Israel, tetapi Anda harus menjadi pihak yang paling kuat di kawasan ini yang dapat mengambil inisiatif, baik untuk perang maupun perdamaian," ujarnya.
Mesir, satu-satunya negara yang menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada tahun 1979, secara historis berperan sebagai penengah antara Israel dan Palestina.