MONTREAL, Radio Bharata Online - Nigeria akan mempertimbangkan untuk membeli pesawat jet penumpang buatan Tiongkok yang baru disertifikasi, C919. Hal ini diucapkan oleh Menteri Penerbangan Nigeria, Hadi Sirika, Sabtu (1/10/2022).

Menteri Sirika menyampaikan, pembelian C919 itu dimungkinkan saat maskapai penerbangan nasional Nigeria Air berencana untuk memiliki hingga 30 pesawat pada 2025. Maskapai baru tersebut akan memiliki campuran koleksi pesawat, yaitu Airbus dan Boeing.

"Tiongkok dan Nigeria memiliki hubungan yang bersahabat dan saling menghormati serta membawa manfaat bersama," kata Sirika dikutip dari Reuters.

Selama berpuluh-puluh tahun, Tiongkok telah memberikan pinjaman miliar dolar bagi Afrika untuk membangun jalan, pembangkit listrik, dan jalan raya.

Nigeria, negara paling padat penduduk di Afrika, merupakan pengimpor utama barang-barang Tiongkok yang nilainya mencapai hingga 23 miliar dolar AS (sekitar Rp349,41 triliun) pada 2021.

Sirika menambahkan bahwa maskapai itu juga ingin melihat kemungkinan memiliki jet berbadan ramping buatan Tiongkok tersebut, yang sudah disertifikasi oleh otoritas Tiongkok pada Jumat (30/9/2022).

"Kami belum melihat C919. Tapi kalau sebagus yang lainnya, kenapa tidak," katanya.

Sebelumnya, Tiongkok memuji pengembangan pesawat jet pertama jarak menengah untuk penumpang itu sebagai wujud upaya swasembada.

Sejalan dengan itu, Tiongkok mengeluarkan izin penggunaan bagi pesawat tersebut, yang ditargetkan bisa menyaingi pesawat buatan perusahaan-perusahaan raksasa negara Barat dalam hal pemesanan.

Menurut laporan kantor berita negara Tiongkok, Xinhua pesawat pertama C919, yang dirancang untuk bersaing dengan model-model lorong tunggal buatan Airbus dan Boeing, akan dikirimkan pada akhir tahun ini,

Belum ada kejelasan soal kapan pesawat itu bisa disertifikasi oleh Amerika Serikat atau Eropa --yang artinya akan membuka jalan bagi penjualan di sebagian besar pasar asing.

Para analis industri mengatakan masih dibutuhkan waktu hingga satu dasawarsa sebelum Tiongkok bisa secara serius menangani dominasi ganda, Boeing-Airbus, saat ini.

Editor: Thomas Rizal