Duta Besar Amerika Serikat (AS) di Tiongkok, Nicholas Burns, hari Rabu kemarin (7/6) mengecam Tiongkok belum menghentikan produksi fentanil, dan mengatakan akan terus memberikan tekanan kepada Tiongkok untuk mencegah narkoba masuk ke AS. Menanggapi hal tersebut, jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers hari Kamis kemarin (8/6) mengatakan , pada bulan Mei 2019, pemerintah Tiongkok dengan semangat kemanusiaan, mengontrol berbagai jenis fentanil, memainkan peran penting untuk mencegah produksi ilegal, perdagangan dan penyalahgunaan fentanil, AS juga menjadi salah satu negara yang menerima manfaatnya. Akan tetapi AS tidak tahu berterima kasih, malah membalas air susu dengan air tuba dengan memberlakukan sanksi yang tidak masuk akal terhadap Institut Ilmu Forensik Kementerian Keamanan Publik Tiongkok dan Laboratorium Narkoba Nasional Tiongkok, serta beberapa kali  mengenakan sanksi terhadap perusahaan dan individu Tiongkok, dengan serius merusak landasan kerja sama anti-narkoba kedua pihak. Jadi  apakah pihak AS ingin menyelesaikan masalah narkoba dalam negeri dengan bekerja sama, atau menempatkan penindasan dan penahanan terhadap Tiongkok pada posisi yang lebih penting? Hal ini harus dipertanyakan kepada Dubes Nicholas Burns.

Wang Wenbin menekankan bahwa pemerintah Tiongkok selalu dengan ketat memberantas kejahatan narkoba, dalam lingkup global, Tiongkok yang paling awal mengategorikan berbagai jenis fentanil, juga merupakan negara yang mengontrol bahan kimia prekursor paling ketat di dunia. Pernyataan yang menyebut “prekursor fentanil Tiongkok diangkut secara ilegal ke AS” adalah informasi palsu.

Wang Wenbin menunjukkan bahwa dasar krisis fentanil AS berada pada dirinya sendiri, mengurangi kebutuhan dalam negeri dan pasokan dalam negerinya sendiri barulah solusi utamanya. Pihak AS harus introspeksi diri, meningkatkan pengontrolan obat resep di dalam negeri, mengintensifkan edukasi tentang bahaya narkoba, serta mengurangi kebutuhan narkoba di dalam negeri, bukannya memfitnah negara lain dan menghindari tanggung jawabnya.

 

Pewarta : CRI