BEIJING, Radio Bharata Online - Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken yang sedang berkunjung di Beijing pada Senin sore. Dalam kesempatan itu Presiden Xi menyerukan AS untuk mengadopsi sikap rasional dan pragmatis untuk menghindari persaingan negara besar, dan untuk menghormati hak dan kepentingan Tiongkok yang sah.

Pertemuan yang diawasi ketat itu diperkirakan akan menyuntikkan kepercayaan pada dunia, karena spiral ke bawah dalam hubungan Tiongkok-AS telah menimbulkan lebih banyak kekhawatiran akan potensi konflik.

Beberapa ahli melihat kunjungan dua hari Blinken di Tiongkok, menghasilkan beberapa hasil positif dengan peta jalan yang jelas, untuk membawa hubungan bilateral kembali ke jalur yang benar.

Pertemuan antara Xi dan Blinken sendiri mengisyaratkan bahwa pembicaraan antara diplomat senior Tiongkok dan AS dari Minggu hingga Senin, mencapai beberapa konsensus, yang mencerminkan bahwa pemerintah Tiongkok sangat menghargai perkembangan stabil hubungan kedua negara, menggarisbawahi ketulusan dan niat baik, serta membuka jalan untuk fase berikutnya dari interaksi tingkat tinggi kedua negara dalam beberapa bulan mendatang.

Presiden Xi menekankan bahwa Tiongkok menghormati kepentingan AS, dan tidak berusaha menantang atau menggusur AS. Dalam nada yang sama, AS perlu menghormati Tiongkok, dan tidak boleh melukai hak dan kepentingan Tiongkok yang sah.

Pertemuan itu terjadi setelah diplomat top Tiongkok Wang Yi menunjukkan akar penyebab dari surutnya hubungan Tiongkok-AS saat ini, yakni persepsi keliru AS tentang Tiongkok, yang mengarah pada kebijakan yang salah terhadap Tiongkok.

Wang juga meminta AS untuk berhenti menyebarkan narasi "ancaman Tiongkok", mencabut sanksi sepihak ilegal terhadap Tiongkok, berhenti menekan teknologi dan pengembangan Tiongkok, dan berhenti dengan sengaja mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok.

Pertemuan Xi dengan Blinken menegaskan kembali pentingnya hubungan Tiongkok-AS, karena apakah kedua negara dapat bergaul satu sama lain, akan mempengaruhi masa depan umat manusia. (Global Times)