BEIJING, Radio Bharata Online - Penjualan senjata yang provokatif ke wilayah Provinsi Taiwan, akan mempersulit pemulihan kerja sama dan pertukaran militer Tiongkok-AS.
Para analis di Tiongkok mencermati laporan bahwa Washington telah mengusulkan penjualan senjata kepada Taiwan, kurang dari sebulan setelah dua kepala negara bertemu langsung di Bali. Padahal ketika itu, Presiden AS Joe Biden menegaskan bahwa AS tidak mendukung kemerdekaan Taiwan, dan tidak berniat terlibat dalam konflik dengan Tiongkok.
Mengingat hak mutlak Tiongkok daratan atas pulau Taiwan, penjualan senjata AS ke Taiwan akan lebih merupakan provokasi politik, daripada dukungan militer dalam praktiknya. Analis juga mendesak AS untuk setia pada kata-kata dan perbuatannya, mengambil tindakan nyata untuk menghentikan provokasi terhadap kepentingan inti Tiongkok dalam masalah Taiwan, dan menahan diri dari mengirimkan sinyal yang salah kepada separatis Taiwan, setelah kegagalan mereka dalam pemilihan lokal baru-baru ini.
Menurut pemberitahuan Departemen Luar Negeri AS yang diperoleh Bloomberg, pemerintahan Biden telah mengusulkan untuk menjual sebanyak 100 rudal pertahanan udara Patriot tercanggih, serta radar dan peralatan pendukung, dalam kesepakatan senilai US$882 juta, kepada Taiwan.
Li Haidong, seorang profesor dari Institut Hubungan Internasional di Universitas Urusan Luar Negeri Tiongkok di Beijing, kepada Global Times pada hari Selasa mengatakan, bahwa AS mendukung kebijakan satu Tiongkok, tetapi tindakannya justru menarik Taiwan menjauh dari Tiongkok.
Dikatakan Li, penjualan senjata AS akan dengan mudah ditafsirkan oleh Partai Progresif Demokratik (DPP), sebagai sinyal dukungan untuk mencari kemerdekaan, dan pukulan terhadap upaya rekan Taiwan untuk memperkuat hubungan dengan daratan. (GT)