Pada 1 dan 2 Juni lalu, pemimpin tertinggi Tiongkok Xi Jinping berturut-turut melakukan kunjungan ke Gedung Publikasi Arsip dan Kebudayaan Nasional (CNAPC) dan Akademi Sejarah Tiongkok, yang merupakan dua ‘ikon budaya’ terbaru. Dalam temu wicara tentang pewarisan dan pengembangan kebudayaan berikutnya, ia untuk pertama kalinya mengajukan pembangunan peradaban modern bangsa Tionghoa. Lantas informasi apa saja yang terbaca dari kunjungannya ke kedua ‘ikon budaya’ tersebut? Apa hubungannya antara peradaban modern bangsa Tionghoa dengan peradaban bangsa Tionghoa yang berlanjut selama 5.000 tahun tanpa terputus?
Dalam 10 tahun yang lalu, jejak langkah Xi Jinping sudah meliputi banyak museum di seluruh negeri. “Saya justru ingin mengetahui asal usul bangsa ini dan hendak ke mana kita.” Demikian keterangan Xi Jinping tentang kepeduliannya terhadap kebudayaan.

Dua tempat yang dipilih untuk dikunjunginya kali ini memang mempunyai arti signifikan. Di sela-sela kunjungannya, Xi Jinping memaparkan pertimbangannya di balik inspeksi tersebut. “Di zaman sekarang ini, negara makmur, masyarakat tenteram, sudah tersedia keinginan dan kemampuan untuk mewarisi kebudayaan bangsa. Inilah tugas berat yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.” Apa yang disebut Xi Jinping dengan “zaman sekarang ini” dituju pada era baru yang dialami Tiongkok sejak 2012, di mana Tiongkok telah mengalami reformasi historis dan telah mencapai prestasi historis dengan menunaikan tugas pengentasan kemiskinan secara menyeluruh dan pembangunan masyarakat cukup sejahtera secara menyeluruh. Apa yang disebutnya dengan “tugas berat ” dituju pada misi penciptaan kebudayaan baru yang sesuai dengan era baru serta pembangunan peradaban modern bangsa Tionghoa.

Xi Jinping selalu menaruh perhatian besar pada pelestarian dan pewarisan serta inovasi dan pengembangan kebudayaan terbaik bangsa Tionghoa. Ia berpendapat, peradaban bangsa Tionghoa yang sudah berlangsung selama lima ribu tahun lebih adalah “akar dan arwah” dari bangsa Tionghoa, merupakan tumpuan semangat sekaligus ikon spiritual bangsa Tionghoa. “Jika terbuang, maka terputuslah urat nadi spiritual bangsa.”
Xi Jinping menandaskan, dalam proses membangun peradaban modern bangsa Tionghoa, harus teguh percaya diri secara kultural, harus menempuh jalan sendiri, dan mewujudkan kemandirian secara spiritual. Perlunya berpegung teguh pada keterbukaan dan inklusivitas, berkonsistensi pada tradisi unggul dan berinovasi diri, mewarisi kebudayaan bangsa dari masa ke masa dan mengukir lembaran gemilang zaman sekarang.
Pewarta : CRI